AKTAMEDIA.COM,PAYAKUMBUH – Berikut adalah artikel panjang tentang proses pembuatan gambir dari pengambilan daun hingga selesai proses produksi di pangkalan, berdasarkan metode tradisional yang umumnya digunakan oleh masyarakat di Sumatera Barat, termasuk sebagaimana dijelaskan oleh Reki Efrianto dalam beberapa kajian atau dokumentasinya:
Gambir (Uncaria gambir Roxb.) adalah produk hasil olahan tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama sebagai bahan baku industri farmasi, kosmetik, penyamak kulit, dan pewarna alami. Indonesia, khususnya Sumatera Barat, adalah penghasil gambir terbesar di dunia, dengan daerah seperti Kabupaten Lima Puluh Kota menjadi sentra utama produksi.
Menurut Reki Efrianto, peneliti sekaligus praktisi lokal, proses produksi gambir di daerah ini masih menggunakan metode tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Meski sederhana, proses ini tetap efektif menghasilkan produk berkualitas tinggi, asalkan dilakukan dengan teliti pada setiap tahapnya.
Berikut adalah tahapan lengkap proses pembuatan gambir tradisional.
1. Pemilihan dan Pemanenan Daun Gambir
Proses dimulai dengan pemilihan daun gambir yang sudah cukup umur. Tanaman gambir mulai produktif setelah berumur 3 tahun dan biasanya dapat dipanen setiap dua bulan sekali.
Petani memetik daun tua yang lebih banyak mengandung katekin, zat utama yang menjadi komponen aktif dalam gambir. Pemanenan dilakukan secara manual, menggunakan tangan atau sabit kecil. Daun yang dikumpulkan langsung dimasukkan ke dalam keranjang atau karung, lalu dibawa ke lokasi pengolahan (pondok produksi).
2. Perebusan Daun
Setelah dikumpulkan, daun gambir dimasukkan ke dalam wadah besar berbahan logam atau drum besi. Wadah ini dipasang di atas tungku kayu bakar. Air ditambahkan secukupnya, kemudian daun direbus selama sekitar 1 hingga 2 jam.
Perebusan bertujuan untuk melunakkan jaringan daun serta melarutkan senyawa kimia seperti tanin dan katekin ke dalam air rebusan. Proses ini menjadi kunci awal keberhasilan ekstraksi senyawa aktif dari daun gambir.
3. Pemerasan dan Penyaringan Ekstrak
Daun yang telah lunak kemudian dipindahkan ke alat pengepres sederhana. Biasanya, petani menggunakan alat pemeras dari kayu atau logam yang ditekan secara manual atau menggunakan tuas.
Cairan berwarna cokelat tua yang keluar dari proses ini merupakan ekstrak gambir mentah. Cairan ini ditampung dalam ember atau baskom besar, lalu disaring untuk memisahkan ampas kasar. Ampas daun biasanya dibuang atau dikeringkan untuk dijadikan bahan bakar.
4. Pengendapan dan Pemisahan
Ekstrak cair yang diperoleh dibiarkan dalam kondisi diam selama beberapa jam agar terjadi proses pengendapan alami. Endapan yang terbentuk merupakan zat aktif gambir yang akan diolah lebih lanjut.
Bagian atas yang berupa air bening dibuang secara perlahan, dan endapan yang kental dikumpulkan untuk masuk ke tahap pencetakan. Pada tahap ini, keahlian dan ketelitian petani sangat diperlukan agar tidak ada zat aktif yang terbuang sia-sia.
5. Pencetakan dan Pengeringan
Endapan kental gambir dimasukkan ke dalam cetakan kayu atau logam berbentuk kotak kecil, lingkaran pipih, atau bentuk silinder. Setiap daerah biasanya memiliki cetakan khas yang membentuk identitas produk mereka.
Setelah dicetak, produk gambir basah dijemur di bawah sinar matahari selama 2 hingga 3 hari. Proses ini sangat tergantung pada kondisi cuaca. Jika hujan, pengeringan bisa memakan waktu lebih lama, bahkan harus menggunakan pengering tambahan seperti tungku asap.
6. Pengemasan dan Pengiriman ke Pangkalan
Gambir yang sudah kering dan mengeras disebut gambir cetak. Produk ini dikemas ke dalam karung goni atau kotak kayu, kemudian dibawa ke pangkalan atau gudang pengumpulan. Di pangkalan, gambir ditimbang dan diklasifikasikan berdasarkan kualitas.
Para pengepul atau eksportir kemudian membeli gambir dari petani untuk dijual ke pasar nasional maupun internasional. Harga gambir sangat bergantung pada kadar katekin dan tingkat kekeringannya.
Proses pembuatan gambir secara tradisional memang memerlukan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Namun, metode ini telah terbukti menjaga kualitas produk dan menjadi sumber penghidupan utama bagi ribuan keluarga petani di Sumatera Barat. Menurut Reki Efrianto, pelestarian metode tradisional ini penting untuk menjaga keberlanjutan usaha tani gambir, sekaligus mempertahankan warisan budaya lokal yang bernilai tinggi.















Leave a Reply