Advertisement

AS – Tiongkok Berdamai, Rupiah Tetap Tertekan

AKTAMEDIA.COM, JAKARTA – Pasar Global Meroket karena Tiongkok Berdamai, tapi Rupiah Tetap Tertekan

Pasar keuangan global menunjukkan penguatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Katalis utama datang dari Tiongkok yang menunjukkan sinyal positif dalam kebijakan luar negerinya serta mengisyaratkan komitmen terhadap pemulihan ekonomi domestik. Namun, berbeda dengan euforia global, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS justru tetap mengalami tekanan.

Tiongkok Berdamai, Pasar Global Bergairah

Salah satu berita utama yang mendorong lonjakan pasar global adalah membaiknya hubungan dagang antara Tiongkok dan negara-negara mitra utamanya. Tiongkok dilaporkan menjalin kembali dialog ekonomi strategis dengan Amerika Serikat, serta melonggarkan pembatasan ekspor dan membuka diri terhadap investasi asing. Hal ini dipandang pasar sebagai langkah positif menuju stabilitas geopolitik dan pemulihan perdagangan internasional.

Selain itu, stimulus fiskal dan moneter dari pemerintah Tiongkok juga membantu mengangkat kepercayaan investor. Saham-saham di Asia dan Eropa menguat, sementara indeks utama di Wall Street mencetak rekor tertinggi baru. Komoditas seperti tembaga dan minyak mentah juga terdongkrak oleh prospek permintaan yang lebih tinggi dari Tiongkok sebagai negara konsumen utama dunia.

Namun, Rupiah Tetap dalam Tekanan

Meskipun suasana global cenderung positif, rupiah tidak menikmati penguatan yang sama. Pada perdagangan terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS justru melemah ke kisaran Rp16.200 per dolar. Beberapa faktor yang menekan rupiah antara lain:

1. Tingginya Ketergantungan Impor dan Defisit Transaksi Berjalan
Indonesia masih mencatat defisit dalam neraca berjalan, yang menandakan permintaan valuta asing lebih tinggi daripada pasokan. Hal ini memberikan tekanan struktural terhadap rupiah.

2. Tingginya Imbal Hasil Obligasi AS (US Treasury Yield)
Dengan The Fed yang masih menahan suku bunga tinggi, investor global lebih memilih instrumen keuangan di AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Akibatnya, terjadi capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

3. Kekhawatiran Domestik
Faktor politik menjelang pelantikan pemerintahan baru, serta persepsi pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter dalam negeri, juga turut mempengaruhi kepercayaan investor terhadap rupiah.

4. Inflasi dan Suku Bunga BI
Meskipun Bank Indonesia mempertahankan suku bunga, ruang untuk melonggarkan kebijakan terbatas karena tekanan inflasi dan lemahnya nilai tukar. Ini membatasi respons moneter yang dapat mendukung rupiah.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pasar domestik tidak selalu sejalan dengan sentimen global. Meskipun Tiongkok berdamai dan pasar dunia menguat, nilai tukar rupiah tetap mencerminkan kondisi internal yang lebih kompleks. Investor dan pembuat kebijakan perlu menjaga keseimbangan antara menyesuaikan diri terhadap dinamika eksternal dan memperkuat fundamental ekonomi domestik agar rupiah bisa lebih stabil di tengah gejolak global.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *