AKTAMEDIA.COM, DEPOK – Kalau kamu pernah tinggal, main, atau sekadar lewat di Depok, mungkin tak pernah terpikir kalau nama kota ini punya akar sejarah yang panjang dan mengejutkan. Bukan berasal dari bahasa lokal, ternyata Depok adalah singkatan dari bahasa Belanda! Yap, bukan mitos, tapi fakta sejarah yang cukup unik.
Kisahnya bermula dari seorang pria Belanda bernama Cornelis Chastelein yaitu mantan pegawai VOC yang kisah hidupnya bak plot drama sejarah. Ia mulai kariernya sebagai pengawas gudang di usia 20-an, namun kariernya menanjak tajam hingga menjadi salah satu saudagar paling berpengaruh dan anggota Dewan Kota Batavia. Gajinya? Sekitar 200–350 gulden per bulan, jumlah yang fantastis di zamannya!
Tapi yang bikin kisahnya luar biasa bukan soal gaji besar atau jabatan tinggi. Chastelein dikenal sebagai sosok yang dermawan dan sangat menghargai hak asasi manusia, terutama dalam memperlakukan budaknya, sesuatu yang jarang dilakukan di masa kolonial.
Pada 1693, ia mulai membeli tanah-tanah di sekitar Batavia. Tanah pertama berada di Weltevreden (sekarang kawasan Gambir), lalu ia membeli lagi di Serengseng (kini Lenteng Agung) setelah pensiun dari VOC. Di lahan inilah ia membangun rumah besar dan menetap bersama keluarganya dan juga 150 orang budaknya!
Tapi tenang, bukan kisah perbudakan kelam. Justru sebaliknya.
Chastelein, sebagai penganut Kristen Protestan yang taat, memilih jalan berbeda yaitu ia membebaskan semua budaknya. Tak hanya dibebaskan, mereka juga diberi tanah warisan dan kepercayaan untuk mengelola lahan-lahan seperti Mampang dan Depok, yang ditanami tanaman komoditas seperti tebu, kopi, lada, dan pala.
Lalu, dari mana asal nama “Depok”? Inilah bagian paling menarik.
Para mantan budak yang dimerdekakan itu kemudian membentuk komunitas berbasis keagamaan bernama De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen, yang berarti “Organisasi Kristen Protestan Pertama.” Dari sinilah muncul nama singkatnya yaitu DEPOK.
Pada 13 Maret 1714, tiga bulan sebelum meninggal, Chastelein menulis surat wasiat yang menyatakan bahwa semua tanah dan hartanya diwariskan bukan hanya kepada keluarga, tetapi juga kepada para bekas budaknya. Bukan sekadar warisan, tapi juga sebuah visi yaitu agar tanah Depok bisa menjadi pusat penyebaran agama dan tempat mereka hidup mandiri.
Mereka dan keturunannya kelak dikenal sebagai “Belanda Depok” yaitu komunitas unik yang mewarisi budaya campuran antara Eropa dan Nusantara.
Lambat laun, nama Depok tetap melekat bahkan hingga zaman modern. Kini, Depok berkembang menjadi kota besar yang dinamis, tapi siapa sangka di balik hiruk-pikuk jalan Margonda dan kampus UI tersimpan kisah klasik tentang kemanusiaan, iman, dan warisan sejarah yang mendalam.















Leave a Reply