AKTAMEDIA.COM, JAKARTA – Asal-Usul dan Perjalanan Sosial Kata “Preman”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “preman” merujuk pada pelaku kejahatan seperti pemerasan dan penodongan. Stereotip masyarakat menggambarkan preman sebagai sosok bertato, kasar, dan suka menindas. Namun sejarah mencatat bahwa preman dulunya memiliki citra berbeda.
Pada masa kolonial Belanda, istilah preman berasal dari kata Belanda vrijman yang berarti “orang bebas”. Vrijman adalah buruh lepas yang tak terikat kontrak dan sering membela buruh perkebunan yang tertindas oleh mandor. Mereka melawan penindasan dengan cara merusak tanaman, memancing keributan, hingga menantang para tuan kebun. Karena peran itu, masyarakat menghormati mereka dan memberi makan-minum gratis. Dari sinilah muncul akronim “preman” yang diyakini berasal dari “prei makan prei minum”.
Menjelang kemerdekaan, preman ikut berjuang bersama laskar-laskar rakyat. Salah satu contoh adalah peristiwa Jalan Bali di Medan tahun 1945. Bahkan Jenderal Nasution pernah memanfaatkan jasa preman untuk menekan Sukarno.
Pasca kemerdekaan, preman masih dipandang positif, seperti saat mereka membantu meredam kekacauan di Medan. Pada masa Orde Lama, mereka dihimpun dalam organisasi Pemuda Pancasila. Namun seiring waktu, muncul oknum yang memanfaatkan kekuatan preman untuk kepentingan pribadi dan kekuasaan.
Di masa Orde Baru, preman menjadi sasaran operasi militer seperti “Operasi Celurit” tahun 1983. Banyak preman dibunuh secara misterius sebagai bagian dari upaya menciptakan efek jera. Setelah Soeharto lengser, operasi semacam itu pun berhenti, namun warisan citra negatif preman tetap membekas hingga kini.
















Leave a Reply