Advertisement

Bahasa Arab dan Diplomasi Kebudayaan: Peran Indonesia dalam Dunia Arab

AKTAMEDIA.COM – Bahasa adalah jembatan peradaban. Dalam sejarah umat manusia, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga medium pewarisan nilai, pengetahuan, dan diplomasi. Di tengah dinamika globalisasi saat ini, diplomasi kebudayaan(cultural diplomacy) menjadi instrumen strategis bagi suatu bangsa untuk membangun pengaruh lunak (soft power), dan dalam konteks ini, Bahasa Arab memiliki posisi yang sangat strategis. Bagi Indonesia—sebagai negara Muslim terbesar di dunia—penguatan posisi Bahasa Arab bukan sekadar kepentingan religius, tetapi juga bagian penting dari strategi diplomasi kebudayaan global.

Bahasa Arab sebagai Jembatan Peradaban

Bahasa Arab adalah bahasa resmi lebih dari 20 negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Bahasa ini bukan hanya menjadi alat komunikasi resmi, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memahami budaya, politik, ekonomi, dan pemikiran dunia Arab. Melalui Bahasa Arab, seseorang dapat mengakses kekayaan literatur Arab klasik dan kontemporer, memahami dinamika sosial masyarakat Arab, serta membangun relasi yang lebih bermakna dalam berbagai sektor, baik pendidikan, ekonomi, maupun hubungan antarnegara.

Bagi Indonesia, kemampuan menembus dunia Arab bukan hanya melalui kerja sama politik dan ekonomi, tetapi juga melalui pendekatan budaya dan bahasa. Banyak negara Arab menaruh respek terhadap bangsa yang menghargai dan menguasai Bahasa Arab, karena hal itu menunjukkan kesungguhan dalam membangun komunikasi sejajar.

Indonesia dan Potensi Diplomasi Budaya Arab

Indonesia memiliki modal kultural yang kuat untuk memainkan peran penting dalam dunia Arab. Lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, perguruan tinggi keislaman, dan organisasi sosial-keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah telah menjalin hubungan historis dengan dunia Arab, terutama melalui pendidikan di Timur Tengah. Ribuan mahasiswa Indonesia belajar di Mesir, Maroko, Sudan, Arab Saudi, Yaman, dan Suriah. Jejak intelektual ini bisa dioptimalkan dalam kerangka diplomasi kebudayaan dengan Bahasa Arab sebagai alat utama.

Selain itu, peran ulama, cendekiawan, dan alumni Timur Tengah bisa diperkuat dalam konteks pertukaran budaya, seminar ilmiah, dan proyek kebahasaan. Pemerintah Indonesia juga bisa memfasilitasi kerja sama pusat bahasa Arab di dalam negeri dengan lembaga kebahasaan di dunia Arab. Kegiatan seperti Festival Bahasa Arab, Pekan Budaya Arab, hingga program pertukaran guru dan dosen Bahasa Arab adalah bentuk-bentuk konkret diplomasi kebudayaan yang dapat diperluas.

Tantangan dan Langkah Strategis

Sayangnya, meskipun memiliki basis Muslim yang besar, penguasaan Bahasa Arab di Indonesia masih relatif rendah dan belum menjadi bagian dari kebijakan strategis luar negeri. Bahasa Arab sering kali masih diletakkan dalam kerangka ritual keagamaan, bukan sebagai instrumen geopolitik dan diplomasi budaya. Oleh karena itu, perlu ada langkah-langkah konkret yang bisa diambil, antara lain:

  1. Mengintegrasikan pembelajaran Bahasa Arab dalam program strategis nasional melalui kementerian pendidikan dan kementerian luar negeri.
  2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga pengajar Bahasa Arab, terutama yang memiliki kompetensi interkultural dan pemahaman geopolitik dunia Arab.
  3. Mengembangkan pusat-pusat studi Arab dan Islam kontemporer di universitas-universitas Indonesia yang berorientasi pada diplomasi dan hubungan internasional.
  4. Membuka lebih banyak peluang pertukaran pelajar dan dosen dengan negara-negara Arab, bukan hanya pada level keagamaan, tetapi juga dalam bidang budaya, ekonomi, dan politik.

Penutup

Diplomasi kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari kekuatan bahasa. Bahasa Arab adalah aset strategis bangsa Indonesia dalam membangun konektivitas dan pengaruh di dunia Arab. Saatnya Bahasa Arab ditempatkan dalam bingkai kepentingan nasional yang lebih luas: bukan hanya sebagai bahasa agama, tetapi sebagai instrumen strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional melalui jalur budaya dan nilai.

 

Oleh: Saproni Muhammad Samin
(Dosen Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Riau)

Cucu Komisaris
Author: Cucu Komisaris

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *