AKTAMEDIA.COM – Dalam era digital saat ini, dakwah tidak lagi dibatasi oleh mimbar-mimbar masjid atau majelis-majelis taklim. Ia kini menjelma dalam berbagai bentuk: video singkat di TikTok, status reflektif di Instagram, podcast keislaman di Spotify, bahkan thread edukatif di X (Twitter). Generasi milenial dan Gen Z menjadi target utama dakwah kontemporer, karena merekalah kelompok yang paling aktif berselancar di dunia maya. Namun, di balik strategi dakwah yang adaptif dan modern ini, ada satu hal yang tak boleh luput: penguasaan Bahasa Arab sebagai kunci utama memahami teks suci Islam secara utuh dan bertanggung jawab.
Al-Qur’an dan Hadis adalah dua sumber utama ajaran Islam, dan keduanya diturunkan dalam Bahasa Arab. Meskipun terjemahan sangat membantu, namun terjemahan tidak selalu mampu menangkap nuansa semantik, konteks budaya, dan dimensi retoris yang terkandung dalam bahasa aslinya. Dalam konteks dakwah digital, ketika kutipan ayat atau hadis digunakan dalam konten singkat dan viral, kemampuan untuk memahami secara mendalam—bukan hanya mengutip—menjadi sangat penting agar pesan yang disampaikan tetap otentik dan tidak disalahpahami.
Sayangnya, tak sedikit konten dakwah yang viral di media sosial justru menampilkan potongan ayat atau hadis tanpa penjelasan konteks, bahkan kadang menyesatkan. Ini bukan hanya persoalan niat, tetapi juga soal kompetensi kebahasaan. Ketika seorang dai digital tidak memiliki dasar Bahasa Arab yang kuat, maka risiko distorsi makna sangat besar. Padahal, dalam konteks keilmuan Islam klasik, ulama dahulu menempuh perjalanan panjang dalam mempelajari Bahasa Arab sebelum menyampaikan satu ayat atau satu hadis kepada masyarakat.
Bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wahana pemahaman ruhani. Dalam dunia dakwah milenial yang serba cepat dan instan, kemampuan mengolah pesan keislaman dengan kedalaman makna menjadi sebuah keharusan. Bahasa Arab membantu dai memahami secara mendalam perbedaan antara ayat makkiyah dan madaniyah, antara majaz dan hakikat, antara lafadz umum dan khusus—semua itu tidak bisa ditangkap hanya dari permukaan teks.
Kini saatnya lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi Islam dan pesantren, menempatkan penguasaan Bahasa Arab sebagai agenda utama dalam mencetak dai milenial. Pendekatan pembelajaran Bahasa Arab juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dakwah digital: kontekstual, aplikatif, dan integratif dengan media teknologi. Bahasa Arab harus dihadirkan bukan sebagai beban gramatikal, tetapi sebagai kunci peradaban.
Masa depan dakwah Islam tidak dapat dipisahkan dari kemampuan menyapa umat dengan bahasa wahyu. Bahasa Arab adalah bahasa langit yang menjembatani pesan-pesan Tuhan kepada manusia. Maka, tidak cukup menjadi dai yang fasih di depan kamera—kita membutuhkan dai yang juga fasih dalam memahami dan menyelami makna teks-teks suci. Di era banjir informasi, kefasihan yang bermakna adalah kebutuhan, dan Bahasa Arab adalah fondasinya.












Leave a Reply