AKTAMEDIA.COM – Dalam masyarakat Muslim, Bahasa Arab memiliki kedudukan yang tidak hanya linguistik, tetapi juga teologis dan epistemologis. Bahasa ini adalah bahasa Al-Qur’an, bahasa Nabi Muhammad ﷺ, dan bahasa ribuan teks otoritatif yang menjadi fondasi hukum, etika, dan spiritualitas Islam. Maka, penguasaan Bahasa Arab bukan sekadar keterampilan berbahasa, tetapi merupakan jalan utama untuk membangun literasi Islam yang otentik dan mendalam.
Sayangnya, di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa asing lainnya, Bahasa Arab justru mulai kehilangan posisi strategisnya di kalangan generasi muda. Banyak di antara mereka yang aktif beragama, rajin mengikuti kajian, bahkan lantang berdiskusi di media sosial tentang isu-isu keislaman, namun tidak memahami secara langsung bahasa sumber teks yang mereka rujuk. Literasi agama akhirnya mengalami keterputusan epistemik: umat Islam memahami ajaran agamanya melalui terjemahan, ringkasan, atau narasi media sosial yang sering kali bias dan terdistorsi.
Di sinilah pentingnya kita membangun kembali gerakan literasi Islam berbasis Bahasa Arab. Literasi agama bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi tentang kemampuan memahami pesan-pesan ilahi dari sumber aslinya secara langsung dan bertanggung jawab. Seorang Muslim yang memiliki kompetensi dasar Bahasa Arab, bahkan sekadar mampu menelusuri makna mufradat dalam Al-Qur’an atau memahami struktur nahwu dasar dalam hadis, akan memiliki daya nalar keagamaan yang lebih matang dan tidak mudah terombang-ambing oleh narasi ekstrem, dangkal, atau provokatif.
Upaya ini harus dimulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, dengan pendekatan yang kontekstual dan komunikatif. Pembelajaran Bahasa Arab tidak cukup hanya menghafal tashrif dan kaidah nahwu, melainkan harus diorientasikan pada kemampuan memahami makna teks-teks Islam. Materi pembelajaran seharusnya bersumber dari teks-teks otentik seperti ayat Al-Qur’an, hadis, doa-doa ma’tsurah, hingga kutipan ulama klasik, yang disajikan dengan pendekatan tematik sesuai realitas kehidupan siswa.
Dalam konteks yang lebih luas, penguasaan Bahasa Arab juga memberi umat Islam akses untuk menyelami khazanah keilmuan klasik yang luar biasa kaya: tafsir, fikih, akhlak, tasawuf, filsafat, dan sebagainya. Ini adalah harta intelektual yang dapat menjadi sumber inspirasi dan solusi bagi berbagai problem umat kontemporer, mulai dari krisis moral, polarisasi sosial, hingga kebuntuan spiritual.
Sudah saatnya kita menyadari bahwa membangun generasi Muslim yang melek teks agama meniscayakan revitalisasi pembelajaran Bahasa Arab. Pemerintah, lembaga pendidikan, ormas Islam, dan para akademisi harus bersinergi dalam merancang kebijakan dan metode pembelajaran yang menyenangkan, aplikatif, dan relevan. Sebab, generasi yang memahami agamanya dari sumber asli akan menjadi generasi yang toleran, kritis, dan kuat dalam identitasnya.
Semoga Bahasa Arab kembali mendapatkan tempat terhormat dalam sistem pendidikan dan kebudayaan Islam kita, tidak hanya sebagai simbol religiusitas, tetapi sebagai alat baca untuk memahami warisan wahyu dan kebijaksanaan ulama sepanjang zaman.












Leave a Reply