AKTAMEDIA.COM – Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa Inggris sebagai lingua franca dunia, wacana menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa kedua di Indonesia sering kali terdengar utopis. Namun jika ditelaah lebih dalam, wacana ini bukan tanpa dasar. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, dan Bahasa Arab bukan hanya bahasa ibadah, melainkan juga bahasa ilmu, budaya, dan peradaban Islam. Maka pertanyaannya, mungkinkah Bahasa Arab benar-benar menjadi bahasa kedua di negeri ini?
Secara historis, Bahasa Arab telah berakar dalam kehidupan umat Islam Indonesia. Dari teks-teks klasik di pesantren hingga lantunan doa sehari-hari, bahasa ini membentuk nadi spiritual dan intelektual masyarakat Muslim. Kitab kuning, Al-Qur’an, Hadis, dan karya-karya ulama Nusantara seperti Tafsir al-Ibrīz dan Sirāj al-Ṭālibīn adalah bukti bahwa Bahasa Arab telah lama hadir sebagai bahasa ilmu dan agama di tanah air.
Namun, secara fungsional dan struktural, Bahasa Arab masih terpinggirkan. Ia belum mendapatkan tempat yang memadai di kurikulum nasional—bahkan di banyak sekolah Islam pun pengajaran Bahasa Arab belum optimal. Kurangnya guru kompeten, terbatasnya media pembelajaran interaktif, dan metode pengajaran yang masih berorientasi pada hafalan menjadikan Bahasa Arab sulit menjelma sebagai bahasa yang hidup di tengah masyarakat.
Di sisi lain, ada potensi besar yang belum dimaksimalkan. Pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan tinggi Islam memiliki infrastruktur yang cukup untuk merevolusi pembelajaran Bahasa Arab. Jika didukung dengan kebijakan afirmatif, pelatihan guru yang berkelanjutan, integrasi teknologi, dan penyusunan kurikulum berbasis kompetensi komunikatif, Bahasa Arab bukan hanya bisa diajarkan—tetapi digunakan dalam keseharian sebagai alat komunikasi yang hidup.
Menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa kedua bukan mustahil. Malaysia dan beberapa negara Afrika seperti Sudan dan Tunisia telah menunjukkan bahwa Bahasa Arab bisa berdampingan dengan bahasa nasional mereka. Kuncinya adalah kemauan politik, dukungan kebijakan pendidikan, dan transformasi pendekatan pengajaran.
Esai ini tidak bermaksud menegasikan pentingnya bahasa asing lain seperti Inggris atau Mandarin. Namun, sebagai bangsa yang menjadikan Islam sebagai bagian dari identitas budaya, Bahasa Arab memiliki posisi strategis yang tak boleh diremehkan. Ia adalah jembatan menuju pemahaman Islam yang lebih otentik, sekaligus pintu gerbang ke khazanah intelektual dunia Arab.
Maka pada akhirnya, menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa kedua bukan utopia, tetapi sebuah visi peradaban yang harus diperjuangkan—bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam kesadaran kolektif umat.
Oleh: Saproni Muhammad Samin
Dosen pendidikan Bahasa Arab UIR

















Leave a Reply