AKTAMEDIA.COM, SINGAPURA – Kakaknya Presiden Pertama Singapura, Adiknya Jadi Menteri di Malaysia! Inilah Sosok Abdul Aziz bin Ishak, Putra Payakumbuh yang Guncang Politik Malaya
Dalam catatan sejarah Asia Tenggara, jarang sekali kita menemukan satu keluarga yang mampu menempatkan putra-putra terbaiknya di pucuk pimpinan dua negara berbeda. Namun, sejarah mencatat sebuah anomali luar biasa dari keturunan Minangkabau: Keluarga Ishak.
Jika dunia mengenal Yusof bin Ishak sebagai Presiden pertama Singapura, maka sejarah Malaysia mencatat nama sang adik, Abdul Aziz bin Ishak (1922–1999), sebagai menteri legendaris yang pilih tanding dalam membela kedaulatan rakyat kecil.
Darah Payakumbuh dan Akar Perlawanan
Abdul Aziz bin Ishak lahir di Perak, Malaysia, pada tahun 1922. Ia mewarisi darah pejuang dari ayahnya, Ishak bin Ahmad, yang merupakan keturunan langsung dari Datuk Jannaton. Datuk Jannaton sendiri adalah seorang bangsawan asal Payakumbuh, Sumatera Barat, yang merantau dan membuka lahan di Pulau Pinang sejak abad ke-18.
Tumbuh besar dalam lingkungan yang kental dengan tradisi intelektual dan semangat merantau, Aziz berkembang menjadi sosok yang kritis. Pendidikan di Raffles Institution, Singapura, semakin mengasah ketajaman berpikirnya, menjadikannya sosok yang tidak pernah bisa diam melihat ketidakadilan kolonial.
“Wartawan Tikus” yang Mengusik Penjajah
Sebelum terjun ke politik, Aziz adalah jurnalis petarung. Bersama kakaknya, Yusof Ishak, ia mendirikan koran legendaris Utusan Melayu. Melalui pena, Aziz menyerang kebijakan kolonial Inggris yang dianggap memeras tenaga rakyat Malaya.
Saking tajamnya tulisan Aziz, Jenderal Gerald Templer, Komisi Tinggi Inggris di Malaya kala itu, sampai menjulukinya sebagai “Wartawan Tikus”. Julukan itu merujuk pada sosok Aziz yang dianggap kecil namun mampu “menggigit” dan merusak tatanan mapan kolonial. Namun bagi rakyat, ia adalah corong kebenaran di masa darurat.
Menteri Pertanian yang Memilih “Pecah” demi Rakyat
Pasca-kemerdekaan Malaysia, Aziz dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertanian dan Koperasi (1955–1963). Di posisi ini, ia menunjukkan jati dirinya sebagai seorang sosialis-demokrat sejati. Ia mengabdikan seluruh tenaganya untuk membangun ekonomi kerakyatan melalui koperasi, demi melepaskan kaum tani dari jeratan kapitalisme.
Namun, prinsip baja Aziz membentur kebijakan pasar bebas yang diusung pemerintahan Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman. Aziz menolak berkompromi. Baginya, kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani adalah harga mati. Keteguhan ini berujung pada pengunduran diri dan pemecatannya dari partai penguasa, UMNO, pada tahun 1963.
Tragedi, Penjara, dan Integritas Tanpa Tanda Jasa
Jalan politik Aziz kian terjal saat masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia (1965-1966). Ia dituduh bekerja sama dengan pihak Indonesia dan ditahan di bawah Akta Keamanan Dalam Negeri (ISA). Meski sempat mendekam di penjara, semangatnya tak pernah padam.
Yang paling mengagumkan dari sosok Abdul Aziz bin Ishak adalah kerendahhatiannya di masa tua. Menjelang akhir hayatnya pada tahun 1999, ia menunjukkan integritas luar biasa dengan menolak semua tawaran gelar kehormatan (seperti Dato’ atau Tan Sri) dari kerajaan. Ia ingin dikenang hanya sebagai rakyat biasa yang telah menunaikan tugasnya bagi bangsa.
Penutup
Kisah Abdul Aziz bin Ishak adalah pengingat bagi kita semua bahwa darah Minang yang mengalir di nadinya bukan sekadar identitas, melainkan spirit untuk menjadi “tuan di tanah sendiri”. Bersama sang kakak di Singapura, keluarga dari Payakumbuh ini telah mengukir sejarah yang tak akan lekang oleh waktu di Tanah Melayu. (Wikipedia)
#AbdulAzizIshak #Minangkabau #Payakumbuh #SejarahMalaysia #Singapura #TokohDunia #Integritas
















Leave a Reply