AKTAMEDIA.COM, PADANG – Saluak Minangkabau adalah penutup kepala tradisional khas laki-laki Minangkabau, khususnya Penghulu atau Datuak dan Pengantin Pria, yang melambangkan kehormatan dan kepemimpinan.
Saluak dibuat dari kain songket atau kain batik segi empat yang dilipat-lipat atau sering menggunakan teknik perendaman kanji. Lipatannya membentuk kerutan jenjang yang melingkar dan datar di bagian atas, biasanya dimiringkan ke kiri saat dipakai.

Berikut adalah mengenai makna saluak:
1. Makna Filosofis:
Lipatan 5 sampai 13 lipatan: Melambangkan banyaknya undang-undang dan peraturan yang harus dipatuhi oleh seorang penghulu. Lipatan ini melambangkan kerumitan masalah yang dihadapi seorang pemimpin (datuak) yang harus diselesaikan melalui musyawarah.
2. Simbol Pemimpin: Melambangkan “lilitan akal” seorang pimpinan adat yang harus mampu menyimpan rahasia, tidak terburu-buru, dan bijaksana (bermusyawarah).
3. Bajanjang Naiak: Lipatan jenjang melambangkan aturan hidup di Minangkabau, yaitu “bajanjang naiak, batanggo turun”.
4 Fungsi: Digunakan saat upacara adat batagak pangulu atau pengangkatan penghulu dan upacara pernikahan untuk pengantin pria.
Cara Pemakaian:
Cara memakai saluak memiliki aturan khusus yang mengandung pesan moral:
1. Kemiringan: Biasanya dipakai dengan sedikit miring ke arah tertentu (misalnya miring ke kiri), yang melambangkan bahwa seorang pemimpin harus rendah hati dan selalu mempertimbangkan pendapat orang lain.
2. Pusar Saluak: Bagian tengah atau “pusar” saluak harus sejajar dengan tulang hidung di tengah dahi, menyimbolkan keadilan dan kejujuran dalam mengambil keputusan.
Saluak merupakan simbol identitas budaya yang menunjukkan keanggunan serta tanggung jawab laki-laki Minangkabau dalam memelihara adat dan nilai-nilai luhur.
















Leave a Reply