Advertisement

Lingkungan Berbahasa: Penentu Keberhasilan atau Penghambat Kemampuan Bahasa Arab?

AKTAMEDIA.COM – Dalam dunia pendidikan bahasa, keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, guru, atau buku ajar. Salah satu faktor paling krusial namun kerap diabaikan adalah lingkungan berbahasa (al-bī’ah al-lughawiyyah). Di banyak lembaga pendidikan Islam di Indonesia, semangat mengajarkan bahasa Arab cukup tinggi, namun realitasnya tidak sejalan dengan hasil: siswa paham teori, tetapi lemah dalam praktik. Pertanyaannya: mengapa kemampuan berbahasa Arab siswa rendah meski telah belajar bertahun-tahun?

Salah satu jawabannya terletak pada tidak hadirnya lingkungan bahasa Arab yang hidup dan berfungsi secara nyata. Tanpa lingkungan yang mendukung praktik berbahasa, proses belajar menjadi pasif dan terputus dari realitas komunikasi.

Lingkungan Bahasa: Lebih dari Sekadar Spanduk dan Jadwal

Seringkali sekolah atau kampus berlomba menampilkan slogan “berbahasa Arab” dalam brosur dan dinding-dinding gedung. Namun ketika kita masuk ke ruang kelas atau asrama, kita jarang mendengar satu kalimat pun dalam bahasa Arab. Jika pun ada, seringkali bersifat seremonial: “kaifa ḥāluka?”, “tafaḍḍal”, lalu dilanjutkan dengan percakapan biasa dalam bahasa Indonesia atau daerah.

Lingkungan bahasa sejati bukan sekadar simbol, tetapi budaya hidup. Ia adalah atmosfer yang mendidik siswa untuk berpikir, berbicara, dan berinteraksi dengan bahasa Arab dalam kegiatan sehari-hari. Mulai dari menyapa teman, berdialog di kantin, berdiskusi di kelas, hingga pengumuman dan pertemuan resmi.

Ketika Lingkungan Menjadi Hambatan

Ironisnya, dalam banyak kasus, lingkungan justru menjadi penghambat kemampuan bahasa Arab. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

  1. Kurangnya Teladan dari Guru dan Pimpinan

Ketika guru sendiri enggan menggunakan bahasa Arab secara lisan di luar jam pelajaran, bagaimana mungkin siswa merasa penting untuk mempraktikkannya?

  1. Ketiadaan Budaya Bahasa

Tidak ada sistem yang memfasilitasi praktik berbahasa. Asrama, kantin, dan ruang kegiatan tidak dihidupkan dengan komunikasi Arab, hanya berfungsi sebagai tempat tinggal biasa.

 

  1. Kurangnya Evaluasi Terhadap Pemanfaatan Bahasa

Institusi tidak menetapkan target keterampilan berbahasa secara nyata. Akhirnya, siswa hanya dituntut nilai ujian, bukan kemampuan praktis.

  1. Fokus Berlebihan pada Nahwu dan Sharf

Kurikulum yang berat ke teori gramatikal tanpa dilengkapi latihan komunikasi nyata hanya mencetak “ahli kaidah”, bukan “pengguna bahasa”.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Membangun Bi’ah Lughowiyah Secara Terencana

Lembaga pendidikan perlu membuat program lingkungan bahasa yang terstruktur: seperti hari tanpa bahasa Indonesia, pelatihan muḥādatsah mingguan, pojok percakapan (ruang khusus berbicara Arab), dan pemanfaatan bahasa Arab dalam kegiatan OSIS/organisasi kampus.

  1. Kepemimpinan Bahasa dari Guru

Guru harus menjadi teladan. Komunikasi di kelas (minimal pembukaan, pengarahan tugas, dan penutup) sebaiknya menggunakan bahasa Arab.

  1. Pemanfaatan Media Sosial dan Teknologi

Siswa bisa diarahkan membuat vlog, podcast, atau status harian dalam bahasa Arab. Ini membangun motivasi dan menormalisasi penggunaan bahasa Arab dalam ruang digital mereka.

  1. Lingkungan Asrama yang Disiplin dan Mendukung

Di pesantren atau kampus berbasis boarding, penting menetapkan zona berbahasa Arab dengan pendamping bahasa yang aktif mengawasi dan membina.

Penutup

Mengharapkan siswa mampu berbahasa Arab aktif tanpa lingkungan yang mendukung ibarat mengharapkan ikan hidup di daratan. Bahasa adalah kebiasaan, bukan semata ilmu. Dan kebiasaan hanya lahir dari lingkungan yang hidup, interaktif, dan konsisten.

Jika pendidikan bahasa Arab ingin membentuk generasi yang bukan hanya tahu, tetapi mampu menggunakan bahasa Arab dalam komunikasi nyata, maka menciptakan lingkungan bahasa adalah keniscayaan, bukan pilihan.

 

Oleh: Alfitri

Dosen Pendidikan Bahasa Arab UIR

Cucu Komisaris
Author: Cucu Komisaris

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *