Advertisement

Metode Komunikatif: Solusi Pembelajaran Bahasa Arab yang Membumi dan Relevan

AKTAMEDIA.COM – Di tengah derasnya arus globalisasi, tantangan pembelajaran bahasa Arab semakin kompleks. Di satu sisi, bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an yang sakral dan harus dipelajari umat Islam. Di sisi lain, pendekatan pengajaran yang stagnan dan kurang kontekstual justru menjauhkan pelajar dari semangat untuk menguasainya. Salah satu akar masalahnya adalah metode yang digunakan dalam pembelajaran: masih dominannya pendekatan gramatikal-tradisional yang mengandalkan hafalan kaidah, bukan praktik berbahasa.

Sudah saatnya dunia pendidikan bahasa Arab di Indonesia beralih kepada metode komunikatif (al-Ṭarīqah al-Tawāṣuliyyah) sebagai solusi pembelajaran yang membumi, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Mengapa Metode Komunikatif?

Metode komunikatif bukan sekadar metode mengajarkan kosakata dan tata bahasa. Ia merupakan pendekatan holistik yang menempatkan kemampuan berkomunikasi sebagai tujuan utama pembelajaran. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya dituntut memahami kaidah, tetapi juga mampu menggunakan bahasa Arab secara aktif dalam konteks kehidupan nyata.

Berbeda dari metode tradisional yang cenderung memfokuskan pembelajaran pada struktur (nahwu-sharf), metode komunikatif mendorong pelajar untuk menggunakan bahasa dalam interaksi sehari-hari, baik lisan maupun tulisan. Aktivitas seperti dialog, simulasi, permainan peran, dan tugas-tugas berbasis proyek menjadi praktik utama di kelas. Tujuannya: menjadikan bahasa Arab sebagai alat komunikasi, bukan sekadar objek hafalan.

Kelebihan dan Relevansi Metode Komunikatif

Ada beberapa alasan mengapa metode ini menjadi sangat relevan diterapkan dalam konteks pendidikan bahasa Arab di Indonesia:

Fokus pada Fungsi Bahasa: Bahasa digunakan untuk menyampaikan ide dan berinteraksi sosial, bukan sekadar memaparkan definisi istilah linguistik.

Pendekatan Kontekstual: Materi disusun berdasarkan situasi nyata (sekolah, pasar, masjid, rumah), yang membuat pembelajaran lebih bermakna.

Interaktif dan Partisipatif: Siswa dilibatkan aktif dalam proses pembelajaran melalui berbagai tugas berbasis komunikasi nyata.

Mendorong Kepercayaan Diri: Dengan latihan yang kontinu, siswa tidak takut lagi salah berbicara, karena kesalahan dianggap bagian dari proses belajar.

Sesuai dengan Kurikulum Merdeka dan OBE: Karena berorientasi pada kompetensi, metode ini sejalan dengan prinsip pembelajaran berbasis capaian.

Tantangan Implementasi di Lapangan

Namun demikian, penerapan metode komunikatif tidak serta-merta berjalan mulus. Banyak guru bahasa Arab yang belum terbiasa bahkan belum memahami pendekatan ini secara mendalam. Pelatihan yang masih minim, bahan ajar yang belum kontekstual, serta budaya kelas yang masih berpusat pada guru menjadi tantangan besar.

Belum lagi, standar evaluasi yang lebih mengutamakan hasil ujian tulis dibandingkan performa lisan membuat metode ini belum memperoleh dukungan maksimal dari sistem.

Apa yang Harus Dilakukan?

Pelatihan Guru Berkelanjutan: Guru harus dibekali pemahaman dan keterampilan untuk mengajar dengan pendekatan komunikatif, termasuk cara mendesain tugas komunikatif, asesmen otentik, dan pengelolaan kelas interaktif.

Pengembangan Buku Ajar Kontekstual: Kurikulum dan buku teks bahasa Arab harus ditulis berbasis situasi nyata, dengan teks yang komunikatif dan interaktif.

Revitalisasi Kurikulum: Perlu penyesuaian kurikulum agar capaian pembelajaran mengarah pada kompetensi komunikasi, bukan sekadar penguasaan struktur bahasa.

Penguatan Lingkungan Bahasa: Metode komunikatif akan berjalan lebih efektif bila didukung oleh lingkungan yang kondusif—misalnya dengan mendorong percakapan ringan dalam bahasa Arab di luar kelas.

 

Penutup

Metode komunikatif adalah pendekatan yang tidak hanya relevan secara teoritis, tapi juga realistis secara praktis. Di era ketika kompetensi komunikasi menjadi kunci di segala bidang, kemampuan berbahasa Arab yang aktif dan produktif harus menjadi prioritas. Sudah waktunya guru dan lembaga pendidikan berani keluar dari zona nyaman, meninggalkan pola lama, dan melangkah ke metode yang lebih hidup dan membebaskan.

Karena sejatinya, bahasa hanya bisa dikuasai dengan digunakan, bukan hanya dihafal.

 

Oleh: Rojja Pebrian

Dosen Pendidikan Bahasa Arab UIR

Cucu Komisaris
Author: Cucu Komisaris

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *