Advertisement

Safe Parenting: Era Baru Mengasuh Generasi Tangguh

AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU — Perkembangan kepribadian anak yang optimal memerlukan lingkungan pengasuhan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan keamanan emosional yang mendalam. Sebagaimana dilaporkan HaiBunda.com, 18 Juli 2025, konsep “emotionally safe parenting” (pola asuh yang aman secara emosional) kini menjadi sorotan para ahli sebagai pendekatan revolusioner yang terbukti paling efektif dalam membentuk anak yang percaya diri, tangguh secara emosional, dan mampu mengelola tantangan hidup dengan baik.

https://www.haibunda.com/parenting/20250718105639-62-371327/sudah-terbukti-ini-pola-asuh-yang-bikin-anak-sukses-dan-percaya-diri

Penelitian kontemporer dalam bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa keamanan emosional dalam pengasuhan merupakan fondasi krusial bagi pembentukan kepribadian anak. Meta-analisis (kajian sistematis yang menggabungkan hasil berbagai penelitian) komprehensif (menyeluruh) oleh Zimmer-Gembeck et al. (2022) yang mengkaji 53 studi empiris (berdasarkan data pengalaman) dalam International Journal of Behavioral Development mengkonfirmasi bahwa regulasi emosi orangtua (kemampuan mengelola dan mengendalikan emosi diri) berkorelasi signifikan (bermakna penting) dengan perilaku pengasuhan positif dan kemampuan regulasi emosi anak. Temuan ini mengindikasikan bahwa keamanan emosional tidak hanya berdampak pada momen saat ini, melainkan membentuk blueprint neurobiologis (pola dasar sistem saraf) yang akan mempengaruhi perkembangan anak hingga dewasa.

Berdasarkan temuan neurobiologis tersebut, kerangka teoretis Emotionally Safe Parenting (Pola Asuh Aman Emosional) dibangun atas tiga pilar fundamental yang saling berinteraksi. Pertama, attachment security (keamanan kelekatan) sebagai dasar relasi orangtua-anak yang sehat. Menurut teori kelekatan Bowlby, attachment security merupakan ikatan emosional yang stabil dan aman antara anak dengan pengasuh utama. Systematic review (tinjauan sistematis) terbaru oleh Obeldobel et al. (2023) dalam Emotion Review menunjukkan bahwa ikatan aman antara orangtua dan anak menciptakan dynamic emotion regulation (regulasi emosi dinamis) yang memungkinkan anak mengembangkan kapasitas emotional recovery (pemulihan emosional) yang optimal setelah mengalami stres. Kedua, parental emotional attunement (penyelarasan emosional orangtua) yang mengacu pada kemampuan orangtua menyelaraskan diri dengan kebutuhan emosional anak secara responsif dan sensitif. Ketiga, co-regulation (pengaturan bersama) sebagai proses pembelajaran emosional di mana sistem saraf anak yang belum matang bertahap menyesuaikan diri dengan sistem regulasi emosi orangtua yang lebih stabil (Lin et al., 2024).

Implementasi praktis model Emotionally Safe Parenting (Pola Asuh Aman Emosional) memerlukan pendekatan yang holistik (menyeluruh) dan terstruktur. Studi empiris (berdasarkan data pengalaman) oleh Mortazavizadeh et al. (2022) dalam Psicologia: Reflexão e Crítica terhadap keluarga dengan anak usia 3-10 tahun menemukan bahwa orangtua yang menerapkan pola asuh otoritatif (authoritative parenting) dengan komponen emotional safety (keamanan emosional) menunjukkan peningkatan signifikan (bermakna penting) dalam kompetensi emosional anak. Menurut Diana Baumrind, pola asuh otoritatif merupakan gaya pengasuhan yang memadukan kehangatan tinggi dengan batasan yang jelas. Praktik konkret meliputi validasi emosional (pengakuan perasaan) melalui frasa seperti “Tidak apa-apa merasa sedih, Ayah/Ibu memahami perasaanmu,” responsive communication (komunikasi responsif) yang mengutamakan pemahaman sebelum memberikan solusi, dan penetapan boundaries yang hangat (batasan yang penuh kasih) yang ditetapkan tanpa mengorbankan koneksi emosional.

Dalam konteks yang lebih luas, analisis mendalam terhadap perbedaan cultural context (konteks budaya) menunjukkan bahwa meskipun prinsip dasar emotional safety (keamanan emosional) bersifat universal, implementasinya perlu disesuaikan dengan nilai-nilai budaya setempat. Penelitian longitudinal (jangka panjang) terbaru oleh Zreik et al. (2025) dalam Family Relations mengidentifikasi bahwa pengalaman masa kecil orangtua yang traumatis dapat mempengaruhi kemampuan mereka memberikan keamanan emosional, namun melalui intervensi yang tepat, pola tersebut dapat diubah. Hal ini menggarisbawahi pentingnya parental self-awareness (kesadaran diri orangtua) dan healing-informed parenting (pola asuh yang mempertimbangkan proses penyembuhan) sebagai komponen integral dalam model Emotionally Safe Parenting (Pola Asuh Aman Emosional).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak jangka panjang penerapan model ini sangat signifikan (bermakna penting) bagi optimalisasi perkembangan kepribadian anak. Systematic review (tinjauan sistematis) oleh Obeldobel et al. (2023) dalam Emotion Review mengkonfirmasi bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan emotionally safe (aman secara emosional) menunjukkan emotional resilience (ketahanan emosional) yang superior, social competence (kemampuan sosial) yang lebih tinggi, dan cognitive flexibility (fleksibilitas kognitif) yang memungkinkan mereka beradaptasi dengan tantangan hidup secara efektif. Menurut Daniel Siegel, ahli neuropsikiatri, penelitian neurobiologis menunjukkan bahwa keamanan emosional dalam pengasuhan mempromosikan optimal brain development (perkembangan otak yang optimal), khususnya dalam area prefrontal cortex (korteks prefrontal) yang bertanggung jawab terhadap executive function (fungsi eksekutif) dan decision-making (pengambilan keputusan).

Sebagai panduan praktis, untuk mengimplementasikan model Emotionally Safe Parenting (Pola Asuh Aman Emosional) secara efektif, orangtua perlu mengembangkan empat kompetensi inti: emotional awareness (kesadaran emosional) untuk mengenali dan memahami emosi diri dan anak, responsive communication (komunikasi responsif) yang mengutamakan empati dan validasi, consistent availability (ketersediaan yang konsisten) yang memberikan rasa aman bahwa orangtua selalu dapat diandalkan, dan repair skills (keterampilan memperbaiki hubungan) untuk memulihkan relasi ketika terjadi kesalahan atau konflik. Training program (program pelatihan) berbasis evidence-based practice (praktik berbasis bukti) menunjukkan bahwa kompetensi ini dapat dipelajari dan dikuasai melalui practice (latihan) yang konsisten dan reflective parenting (pengasuhan reflektif).

Model Emotionally Safe Parenting (Pola Asuh Aman Emosional) merepresentasikan evolusi paradigma pengasuhan dari pendekatan behavior-focused (berfokus pada perilaku) menuju relationship-centered approach (pendekatan berpusat pada hubungan) yang menekankan kualitas koneksi emosional sebagai kunci utama. Dengan menggabungkan rigor ilmiah (ketepatan ilmiah) dan aplikasi praktis yang humanis, model ini menawarkan roadmap (peta jalan) komprehensif bagi orangtua untuk menciptakan lingkungan pengasuhan yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga nurturing (memelihara dan mengasuh) secara emosional. Implementasi model ini secara konsisten akan menghasilkan generasi anak yang tidak hanya sukses secara akademis dan profesional, tetapi juga memiliki well-being emosional (kesejahteraan emosional) yang optimal dan kemampuan membangun relasi yang sehat sepanjang hidup mereka.

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana S3 prodi Hukum Keluarga Islam UIN Suska Riau

Daftar Pustaka

Lin, S. C., Kehoe, C., Pozzi, E., Liontos, D., & Whittle, S. (2024). Research review: Child emotion regulation mediates the association between family factors and internalizing symptoms in children and adolescents–a meta‐analysis. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 65(3), 260-274. https://doi.org/10.1111/jcpp.13894

Mortazavizadeh, Z., Göllner, L., & Forstmeier, S. (2022). Emotional competence, attachment, and parenting styles in children and parents. Psicologia: Reflexão e Crítica, 35(1), 6. https://doi.org/10.1186/s41155-022-00208-0

Obeldobel, C. A., Brumariu, L. E., & Kerns, K. A. (2023). Parent-child attachment and dynamic emotion regulation: A systematic review. Emotion Review, 15(1), 28-44. https://doi.org/10.1177/17540739221136895

Zimmer-Gembeck, M. J., Rudolph, J., Kerin, J., & Bohadana-Brown, G. (2022). Parent emotional regulation: A meta-analytic review of its association with parenting and child adjustment. International Journal of Behavioral Development, 46(1), 63-82. https://doi.org/10.1177/01650254211051086

Zreik, G., Oppenheim, D., & Sagi-Schwartz, A. (2025). Parental childhood adversity and emotional functioning: Associations with child’s emotion regulation. Family Relations, 74(1), 189-207. https://doi.org/10.1111/fare.13120

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *