AKTAMEDIA.COM, JAKARTA — Keserakahan telah melanda peradaban manusia sejak zaman kuno hingga era modern sebagai fenomena universal. Publikasi Wisata Viva tanggal 12 Juli 2025 menyoroti pemikiran Seneca yang menyatakan bahwa “bagi keserakahan, seluruh alam pun terasa kurang”. Fenomena ini membutuhkan solusi filosofis yang komprehensif dari berbagai tradisi pemikiran untuk mengatasinya.
Manusia semakin terperangkap dalam siklus konsumtif yang tidak pernah berakhir dalam konteks globalisasi dan materialisme kontemporer. Media sosial dan budaya kapitalisme telah menciptakan standar hidup yang mendorong individu untuk terus mengejar kepemilikan material sebagai indikator kesuksesan. Fenomena ini tidak hanya menimbulkan ketidakpuasan personal, tetapi juga mengancam stabilitas sosial dan keseimbangan ekologis planet bumi.
Lucius Annaeus Seneca (4 SM-65 M) mengembangkan konsep bahwa keserakahan adalah bentuk perbudakan mental yang menghalangi pencapaian kebahagiaan sejati sebagai filosof Stoik terkemuka. Seneca menyatakan, “For greed, all nature is too little” – ungkapan yang menggambarkan sifat tidak terbatas dari nafsu material manusia. Stoikisme Seneca menekankan pentingnya pengendalian diri dan kemerdekaan batin dari ketergantungan pada faktor eksternal sebagai kunci menuju kehidupan yang bermakna. Pendekatan filosofis ini berfokus pada rasionalitas dan kebijaksanaan praktis dalam menghadapi godaan material. Stanford Encyclopedia of Philosophy menjelaskan bahwa Seneca memandang fokus pada pengendalian internal sebagai jalan menuju ketenangan batin.
Imam Al-Ghazali (1058-1111 M) mengembangkan konsep “qana’ah” (contentment) sebagai antitesis dari keserakahan yang destruktif dalam tradisi tasawuf Islam. Al-Ghazali menjelaskan bahwa qana’ah bukan sekedar menerima keadaan, melainkan kondisi spiritual dimana jiwa merasakan kepuasan mendalam dengan karunia Allah yang telah diberikan dalam masterpiece-nya “Ihya Ulumuddin”. Al-Ghazali mengintegrasikan dimensi spiritual, emosional, dan intelektual dalam mengatasi keserakahan melalui pendekatan holistik yang melibatkan dzikir, kontemplasi, dan pengenalan diri (ma’rifah), berbeda dengan Seneca yang mengandalkan rasio. Penelitian Ebrahimi menunjukkan keterkaitan antara ma’rifah dan mahabbah dalam sistem tasawuf Al-Ghazali.
Kedua tradisi ini menunjukkan konvergensi metodologis yang menarik dalam perbandingan mendalam. Seneca menekankan latihan mental (spiritual exercises) seperti premeditatio malorum untuk membangun resiliensi terhadap kehilangan material. Al-Ghazali mengajarkan riyadhah (spiritual discipline) melalui puasa, meditasi, dan refleksi untuk mencapai detachment dari dunia material. Kedua pendekatan ini sama-sama mengakui bahwa keserakahan adalah gejala ketidakseimbangan internal yang memerlukan transformasi kesadaran, bukan sekedar pengendalian perilaku eksternal. Penelitian tentang qana’ah dalam konteks kontemporer menunjukkan bahwa konsep kepuasan ini berperan penting dalam mengatasi masalah sosial dan lingkungan yang disebabkan oleh keserakahan.
Krisis keserakahan modern memerlukan sintesis antara wisdom tradisional Stoik dan tasawuf Islam dengan realitas kontemporer sebagai solusi komprehensif. Implementasi practical wisdom dapat dilakukan melalui beberapa langkah strategis. Pertama, institusi pendidikan harus mengembangkan kurikulum pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai-nilai contentment dan self-control. Kedua, pemerintah perlu menerapkan kebijakan ekonomi yang mendorong pola konsumsi berkelanjutan. Ketiga, masyarakat harus mempromosikan filosofi gaya hidup yang memprioritaskan kesejahteraan di atas akumulasi materi. Keempat, komunitas perlu membangun sistem dukungan yang memperkuat resiliensi spiritual dan psikologis individu dalam menghadapi tekanan konsumerisme.
Sintesis filosofi anti-keserakahan Seneca dan Al-Ghazali menawarkan framework holistik untuk mengatasi tantangan materialisme modern melalui transformasi kesadaran yang mengintegrasikan rasionalitas, spiritualitas, dan praktik kehidupan sehari-hari. Implementasi wisdom kedua tradisi ini tidak hanya relevan untuk pembangunan karakter individual, tetapi juga essential untuk menciptakan peradaban yang berkelanjutan dan harmonis di abad ke-21. Umat manusia memerlukan pendekatan yang menggabungkan kearifan klasik dengan solusi kontemporer untuk menghadapi krisis keserakahan yang mengancam keharmonisan sosial dan kelestarian lingkungan.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana S3 prodi Hukum Keluarga Islam UIN Suska Riau
Daftar Pustaka
Ebrahimi, M. (2021). Al-Ghazali’s ma’rifah and mahabbah’s relations. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/356802683_Al-Ghazali’s_Ma’rifah_and_Mahabbah’s_Relations
Menurut Seneca: Bagi keserakahan, seluruh alam pun terasa kurang. (2025, Juli 12). Wisata Viva. https://wisata.viva.co.id/pendidikan/21927-menurut-seneca-bagi-keserakahan-seluruh-alam-pun-terasa-kurang
Seneca. (2023). Stanford Encyclopedia of Philosophy. https://plato.stanford.edu/entries/seneca/
Al-Ghazali. (2023). Stanford Encyclopedia of Philosophy. https://plato.stanford.edu/entries/al-ghazali/
Contentment (Qana’ah) and its role in curbing social and environmental problems. (2016). ICR Journal, 5(3). https://www.academia.edu/8046005/Contentment_Qanaah_and_Its_Role_in_Curbing_Social_and_Environmental_Problems_ICR_Journal_vol_5_no_3_

















Leave a Reply