AKTAMEDIA.COM, MEDAN – Sosok Laura Amandansari mendadak menjadi sorotan pada momen wisuda Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang berlangsung meriah. Mahasiswi asal Fakultas Hukum ini mencuri perhatian bukan hanya karena prestasinya sebagai lulusan terbaik, tetapi juga karena keberaniannya menyampaikan pantun yang menyentuh saat prosesi wisuda berlangsung.
Laura, yang beragama Kristen, dengan penuh percaya diri tampil di hadapan ribuan peserta wisuda dan undangan. Dalam pidatonya, ia menyampaikan sebuah pantun bernuansa permohonan beasiswa kepada Rektor UMSU, Prof. Dr. Agussani, MAP. Dengan suara bergetar namun penuh keyakinan, Laura berkata:
> “Buah mangga buah pepaya,
Terima kasih UMSU tercinta,
Saya Kristen tak pernah beda,
Minta beasiswa untuk S2.”
Pantun tersebut sontak mengundang decak kagum dan tepuk tangan dari seluruh hadirin yang memenuhi ruangan wisuda. Tak hanya menyentuh, pantun itu mencerminkan keberanian, kejujuran, dan ketulusan hati seorang mahasiswa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga pandai menempatkan diri dalam keberagaman kampus.
Rektor UMSU, yang terkejut sekaligus tersentuh dengan aksi Laura, langsung memberikan jawaban spontan di hadapan publik:
> “Beasiswa untuk S2 saya kabulkan, langsung dari rektorat!”
Sontak, suasana ruangan riuh oleh tepuk tangan dan sorak-sorai para hadirin. Momen tersebut menjadi simbol nyata toleransi, inklusivitas, dan penghargaan terhadap keberagaman di lingkungan kampus Muhammadiyah.
Laura Amandansari adalah contoh nyata bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk berprestasi dan mendapatkan tempat yang layak dalam dunia pendidikan. Sebagai mahasiswi non-Muslim di kampus berbasis Islam, ia merasa diterima, dibina, dan diberi kesempatan yang sama untuk berkembang.
Dalam wawancara singkat seusai acara, Laura menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh sivitas akademika UMSU.
> “Saya bersyukur bisa menempuh pendidikan di UMSU. Saya tidak merasa dibeda-bedakan. Saya diterima dengan baik dan bisa berkembang. Terima kasih atas kepercayaan dan beasiswa ini,” ucapnya haru.
Kisah Laura bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang persaudaraan lintas iman, keberanian menyuarakan harapan, dan bukti nyata bahwa pendidikan tinggi adalah ruang inklusif untuk semua.
















Leave a Reply