Advertisement

Dr. H. C.H. Hadji Abdullah Ahmad : Pionir Pendidikan Islam Modern dan Pembumi Semangat Kebangsaan

AKTAMEDIA.COM, Pekanbaru – 9 Juli 2025 – Di tengah arus nasionalisme yang bergelora di awal abad ke-20, tokoh-tokoh pendidikan menjadi penentu arah kebangkitan rakyat. Dr. H. C. H. Hadji Abdullah Ahmad tampil sebagai salah satu pionir terpenting. Lahir di Padang Panjang pada 1878 dan dikenal sebagai ulama reformis, ia menginisiasi Adabiyah School pada 1909, mendirikan organisasi guru Islam, dan menerbitkan majalah Al-Munir, media Islam modern pertama di Hindia Belanda. Beliau juga merupakan salah satu orang Indonesia pertama yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Kiprah Abdullah Ahmad merentang jauh melampaui ranah pendidikan—ia memberi fondasi intelektual bagi pergerakan kemerdekaan.

1. Latar Belakang dan Pendidikan Awal

Abdullah Ahmad lahir dari keluarga ulama dan pedagang di Padang Panjang. Pada usia 17 tahun (1895), ia menunaikan ibadah haji dan mengenyam pendidikan empat tahun di Mekkah, menjadikannya murid dan bahkan asisten Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi . Di sana ia mempelajari metodologi pengajaran modern dan pemikiran pembaruan Islam.

2. Adabiyah School: Perintis Pendidikan Modern

Setelah kembali ke Indonesia pada 1909, ia mendirikan Adabiyah School di Padang Panjang—sebuah sekolah modern berbasis Islam. Per 1915, sekolah ini diakui setara dengan HIS Belanda dan bernama HIS Adabiyah, lengkap dengan kurikulum agama dan umum. Ini merupakan bentuk full day school jauh sebelum kebijakan serupa diterapkan secara nasional.

Sekolah ini juga menggunakan metode diskusi dan debat—melampaui model halaqah tradisional, dan memicu dukungan dari pemerintah kolonial hingga segmen masyarakat modernis.

 

3. Mengorganisasi Guru dan Penyebaran Ide

Abdullah Ahmad mendirikan Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) pada 1918, yang kemudian teregistrasi resmi pada 1920. Organisasi ini menyatukan ulama modernis dan tradisional untuk memperkuat kualitas pendidikan Islam. Melalui PGAI ini dibentuk Normal Islam, melahirkan tenaga guru, dan mendorong pembangunan sekolah dasar hingga menengah agama, termasuk pesantren modern seperti Sumatra Thawalib.

 

4. Media dan Majalah Reformis

Beliau mendirikan majalah Al-Munir pada April 1911, menjadikannya media massa Islam pertama di Hindia Belanda, untuk menyebarkan pikiran modernis Islam. Majalah ini diikuti majalah Al-Akhbar (1913) dan keberlanjutan melalui Al-Islam Surabaya. Media ini digunakan untuk mengadvokasi kemajuan umat dan menegaskan pentingnya literasi agama sebagai bagian dari kebangkitan nasional.

 

5. Pengakuan Internasional: Gelar Doktor Kehormatan

Pada Kongres Ulama Islam di Kairo tahun 1926, beliau bersama Abdul Karim Amrullah mendapat gelar doktor hono­ris causa dari Universitas Al-Azhar atas dedikasi dalam pendidikan agama Islam. Gelar ini menempatkannya sebagai tokoh pembaruan Islam pertama di Indonesia yang mendapat pengakuan global.

6. Kontribusi terhadap Semangat Kemerdekaan

Meskipun tidak aktif dalam politik, Abdullah Ahmad membangun fondasi intelektual dan moral yang mendukung tumbuhnya para pemimpin nasionalis. Sistem pendidikan dan media berpikiran progresifnya telah mencetak ulama modern dan aktivis yang pada masa Revolusi dan periode kemerdekaan jadi agen perubahan. Kesadaran kritik terhadap kolonialisme tumbuh di lingkungan pendidikannya.

 

7. Akhir Hidup dan Warisan Abadi

Dr. Abdullah Ahmad wafat November 1933 di Padang dalam usia 55 tahun. Ia dikenang lewat jalan bernama Adabiyah di Padang, serta fondasi pendidikan dan organisasi guru Islam yang masih ada hingga kini. Warisannya aktif sebagai pilar dalam modernisasi pendidikan Islam dan pemberdayaan kader agama yang berwawasan kebangsaan.

Dr. H. C. H. Hadji Abdullah Ahmad mengajarkan bahwa pembebasan bangsa bukan hanya dengan senjata, tetapi juga melalui pena, kurikulum, dan nilai moral. Perannya sebagai pendidik, penulis, dan penggagas organisasi merupakan bentuk perlawanan intelektual terhadap penjajahan. Lewat cara itu, ia melahirkan generasi pemimpin yang progresif dan berpihak pada kemerdekaan.

✍️ Pendapat Pribadi

Bagi saya, Dr. Hadji Abdullah Ahmad adalah sosok teladan bagaimana pendidikan transformatif dapat menjadi wahana perlawanan terhadap penjajahan dan kemandulan intelektual. Ia tidak sekadar membentuk lembaga, tetapi membangun mental kritis dan spirit kebangsaan melalui integrasi agama dan ilmu modern. Prinsipnya bahwa pemimpin bangsa lahir dari guru dan kertas, bukan dari panggung demagogi, tetap relevan di tengah tantangan zaman sekarang.

📚 Daftar Sumber Referensi

1. Suluah.com – Abdullah Ahmad, Ulama Reformis di Bidang Dakwah dan Pendidikan

2. Sumbarsatu.com – Abdullah Ahmad, Pendiri Perguruan Adabiyah dan Pelopor Pendidikan Madrasah

3. Langgam.id – Syekh Abdullah Ahmad: Pendiri Adabiyah dan PGAI

4. Sindonews.com – Abdullah Ahmad dan Modernisasi Islam di Minangkabau

5. SuaraMuhammadiyah.id – Haji Abdullah Ahmad dan Gagasan Full Day School

6. Ensiklopediaislam.id – Abdullah Ahmad

7. En.Wikipedia.org – *Abdullah Ahmad (cleric)*

8. Kompasiana.com – Dr. Abdullah Ahmad, Pelopor Pendidikan Islam Modern

Aditya Baso
Author: Aditya Baso

Newbie

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *