AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU — Generasi Z di Indonesia sedang mengubah konsep pernikahan tradisional secara revolusioner. Mereka menggeser paradigma (kerangka berpikir) dari kemegahan formal menuju pernikahan intim yang mencerminkan keaslian dan nilai-nilai progresif. Fenomena ini mencuat ke permukaan setelah Wolipop Detik melaporkan pada 1 Juli 2025 tentang viralnya pernikahan bertema “pesta kebun” dengan konsep unik. Pernikahan tersebut menampilkan bean bag sebagai tempat duduk, mie instan siap saji, dan kopi keliling gratis yang menggantikan hidangan formal tradisional.
Pernikahan viral bergaya “pesta kebun” dengan bean bag, mie instan, dan kopi keliling di media sosial mencerminkan pergeseran fundamental (mendasar) dalam cara generasi penduduk asli digital mengonstruksi makna pernikahan. Transformasi (perubahan) ini bukan sekadar tren estetika, melainkan perwujudan perlawanan budaya terhadap norma-norma konvensional yang mereka anggap tidak selaras dengan identitas generasi Z (Agustian et al., 2023). Perubahan ini mengindikasikan dekonstruksi (pembongkaran) sistematis terhadap tradisi perkawinan yang telah mengakar dalam masyarakat Indonesia selama berabad-abad.
Penelitian sosiologis menunjukkan bahwa generasi Z Indonesia memiliki preferensi berbeda dalam merespons institusi pernikahan dibandingkan generasi sebelumnya. Studi terbaru mengungkapkan bahwa generasi Z cenderung menunda pernikahan dan mempertanyakan relevansi institusi pernikahan tradisional dalam kehidupan modern (Suryawan & Jannah, 2024). Badan Pusat Statistik mencatat penurunan signifikan jumlah pernikahan di Indonesia dari 1.705.255 pada 2022 menjadi 1.577.255 pada 2023. Tren penurunan 28,63% dalam dekade terakhir sebagian besar didorong oleh perubahan persepsi generasi Z terhadap pernikahan.
Faktor psikologis dan sosial berperan sangat penting dalam membentuk perspektif (sudut pandang) generasi Z tentang pernikahan. Fenomena “marriage is scary” (pernikahan itu menakutkan) yang viral di media sosial mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap komitmen jangka panjang, stabilitas finansial, dan kehilangan otonomi personal (kebebasan pribadi) (Dewi & Arifin, 2025). Generasi Z cenderung memprioritaskan pengembangan diri, karier, dan stabilitas emosional sebelum memasuki institusi (lembaga) pernikahan. Mereka juga menghadapi dilema antara ekspektasi tradisional keluarga dengan nilai-nilai individualistik yang mereka anut dalam era digital.
Analisis antropologis menunjukkan bahwa pernikahan intim yang dipopulerkan generasi Z menggambarkan demokratisasi (pendemokratisasian) ritual pernikahan. Konsep ini menggeser fokus dari pamer status sosial-ekonomi menuju pengalaman bermakna yang melibatkan komunitas terdekat (Nobles & Buttenheim, 2008). Pergeseran dari pernikahan megah di gedung mewah menuju perayaan di ruang informal dengan elemen personal seperti ilustrasi langsung, makanan favorit, dan interaksi langsung antara pengantin-tamu mencerminkan penolakan terhadap budaya pernikahan hierarkis (bertingkat) yang telah lama mendominasi masyarakat Indonesia.
Transformasi nilai budaya ini juga dipengaruhi oleh paparan global melalui media sosial dan platform (wadah) digital. Generasi Z Indonesia terpapar beragam konsep pernikahan dari berbagai budaya sehingga memungkinkan mereka mengadopsi dan mengadaptasi elemen-elemen yang sesuai dengan sistem nilai mereka. Proses percampuran budaya ini menghasilkan pola pikir pernikahan baru yang menggabungkan elemen tradisional dengan pendekatan masa kini. Contohnya adalah penggunaan busana tradisional dalam suasana santai atau penggabungan kuliner lokal dalam format non-formal.
Perubahan fundamental (mendasar) dalam praktik pernikahan generasi Z memerlukan adaptasi (penyesuaian) dari berbagai pemangku kepentingan. Industri penyelenggara pernikahan perlu mengembangkan paket layanan yang mengakomodasi konsep pernikahan intim dengan pilihan yang ramah anggaran. Keluarga dan masyarakat harus membuka dialog konstruktif untuk memahami motivasi di balik pergeseran preferensi (pilihan) ini tanpa menghilangkan nilai-nilai positif dari tradisi pernikahan Indonesia. Institusi (lembaga) pendidikan dapat mengintegrasikan (menggabungkan) pendidikan kehidupan keluarga yang komprehensif (menyeluruh) untuk mempersiapkan generasi Z menghadapi dinamika pernikahan modern.
Lembaga sosial dan pemerintah perlu merespons perubahan ini dengan kebijakan yang mendukung beragam praktik pernikahan sambil tetap mempertahankan kerangka hukum yang melindungi. Program-program keterlibatan masyarakat dapat difokuskan pada penjembatan kesenjangan generasi dalam memahami evolusi budaya pernikahan. Hal ini memastikan bahwa perubahan ini tidak menghilangkan esensi pernikahan sebagai institusi sosial yang fundamental.
Dekonstruksi (pembongkaran) tradisi perkawinan oleh generasi Z Indonesia mencerminkan evolusi (perkembangan) alami dalam merespons dinamika sosial yang berubah. Pernikahan intim bukan penolakan terhadap pernikahan, melainkan pendefinisian ulang makna perayaan yang lebih selaras dengan nilai-nilai masa kini. Pemahaman mendalam terhadap fenomena ini sangat penting untuk memastikan harmonisasi (penyelarasan) antara pelestarian budaya dengan inovasi sosial. Hal ini menciptakan budaya pernikahan yang inklusif (terbuka), asli, dan berkelanjutan untuk masa depan Indonesia.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana S3 prodi Hukum Keluarga Islam UIN Suska Riau
Daftar Pustaka
Agustian, K., Mukhlas, O. Y. O. S., & Arfaizar, J. (2023). Marriage law in Indonesia from a legal sociology perspective. Russian Law Journal, 11(6), 1-15.
Dewi, T., & Arifin, S. N. (2025). Studi fenomenologi: Marriage is scary pada generasi Z. Teraputik: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 8(3), 12-20. https://doi.org/10.26539/teraputik.833675
Himawan, K. K., Bambling, M., & Edirippulige, S. (2018). What does it mean to be single in Indonesia? Religiosity, social stigma, and marital status among never-married Indonesian adults. SAGE Open, 8(2), 1-12. https://doi.org/10.1177/2158244018803132
Nobles, J., & Buttenheim, A. (2008). Marriage and socioeconomic change in contemporary Indonesia. Demography, 45(3), 695-717. https://doi.org/10.1353/dem.0.0024
Suryawan, S. D., & Jannah, Y. (2024). Young marriage: Is it still a trend among Indonesians? Seminar Nasional Official Statistics, 2024(1), 241-248. https://doi.org/10.34123/semnasoffstat.v2024i1.2136
Wolipop Detik. (2025, Juli 1). Viral pernikahan ala gen Z, tema pesta kebun ada mie instan dan kopi keliling. Detik.com. https://wolipop.detik.com/wedding-news/d-7994398/viral-pernikahan-ala-gen-z-tema-pesta-kebun-ada-mie-instan-dan-kopi-keliling
















Leave a Reply