Advertisement

Kehidupan Remaja dalam Jerat Standar TikTok : Sebuah Tinjauan Melalui Kacamata Jean Baudrillard

AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU – Era digital yang bergerak serba cepat dan penuh inovasi menjadi ruang utama bagi remaja untuk mengekspresikan diri dan berinteraksi melalui sosial media. Salah satu media sosial populer remaja masa kini adalah TikTok, secara mudah TikTok menghadirkan tren yang sangat memengaruhi gaya hidup, citra diri, dan norma sosial remaja. Tren simpel seperti JJ (JedagJedug) kemudian OOTD (Outfit Of the Day) hingga velocity, akan lebih mudah diterima di kalangan remaja masa kini. Namun, dibalik popularitas ini, tersimpan fenomena sosial yang kompleks: remaja terperangkap dalam standar yang dibentuk oleh konten viral dan citra yang dibangun secara strategis. Untuk itu saya mengajak pembaca untuk memahami fenomena ini secara lebih mendalam dengan kacamata filsuf dan sosiolog Prancis, Jean Baudrillard dengan teori simulacranya.

Baudrillard menjelaskan bahwa dalam masyarakat kontemporer, realitas mulai digantikan oleh simulasi yang secara simpel bisa kita maknai sebagai representasi atau tiduran yang tidak lagi merefleksikan kenyataan asli, melainkan menciptakan realitas baru yang mandiri, yang disebut sebagai simulacra. Hal ini bukan hanya salinan (copy-paste) dari dunia nyata, melaikan sesuatu yang hiperreal, di mana citra dan tanda menjadi lebih “nyata” daripada realitas itu sendiri. Dalam konteks TikTok, standar kecantikan, kesuksesan, dan gaya hidup bukan lagi hal-hal yang melekat pada individu secara alami, tetapi merupakan konstruksi visual yang diciptakan, diperkuat, dan diulang melalui video-video singkat yang viral. Salah satu tren tentang prinsip hidup yang cukup viral pada waktu itu, yaitu tren “selain donatur dilarang ngatur” hal itu kemudian menjadi perdebatan besar, kemudian menjadi olok-olok besar, ada yang mengikuti, ada pula yang kemudian membuat semacam tren perlawanan.

Dampaknya sangat nyata. Studi tahun 2025 yang berjudul “Teens, Social Media and Mental Health” oleh Michelle Faviero, Monica Anderson, dan Eugenie Park menunjukkan bahwa penggunaan TikTok yang berlebihan berkorelasi dengan kecemasan, stres, dan perasaan yang tidak baik di kalangan remaja. Hampir setengah remaja mengakui dalam riset ini bahwa media sosial, termasuk TikTok berdampak negatif pada kesehatan mental. Masalah lain muncul selain kesehatan mental yaitu hampir separuh konten yang ditemukan tentang kesehtan mental di TikTok mengandung informasi palsu, bisa dilihat seperti akun-akun yang mengatakan tentang fakta psikologi, dan self diagnostic problem.

Fenomena ini tak hanya soal tekanan sosial, tapi adalah kekhawatiran tentang krisis identitas. Remaja memang sedang mencari jati diri, namun kemudian teraleniasi oleh dunia simulasi yang penuh standar dan citra hiperreal. Alih-alih mengenal diri mereka sendiri dengan autentik, mereka hidup dalam refleksi yang diproduksi untuk mendapatkan validasi yang bersifat sementara dan dangkal.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengajak remaja agar lebih kritis terhadap konsumsi media digital dan mendorong mereka menemukan nilai diri dari pengalaman nyata, bukan hanya dari FYP, jumlah “likes” atau followers. Pendidikan media yang menanamkan pemahaman terhadap konstruksi citra di media sosial harus menjadi pertimbangan prioritas dalam sebuah kurikulum pembelajaran agar generasi muda tidak kehilangan dirinya dalam dunia hiperreal yang diciptakan teknologi.

 

Ditulis oleh :  Muhammad Faizal Dzulqarnain

(Dosen Sosiologi UNRI)

 

Referensi :

  1. https://www.dbsalliance.org/education/newsletters/tiktok-and-youth-mental-health/
  2. https://www.pewresearch.org/internet/2025/04/22/teens-social-media-and-mental-health/
  3. https://journal.unesa.ac.id/index.php/elite/article/download/34274/11845/111360

 

 

Surya
Author: Surya

Redaktur Akta Media

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *