AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kian melesat pesat dalam satu dekade terakhir. Dari sektor industri, layanan publik, kesehatan, hingga pendidikan, AI telah menjadi pilar penting yang mengubah cara manusia bekerja. Namun, kemajuan ini tidak datang tanpa konsekuensi: munculnya kekhawatiran besar akan tergesernya peran manusia oleh mesin pintar.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat global: Apakah kecanggihan AI akan menjadi solusi kehidupan atau justru tantangan baru bagi kompetensi manusia?
AI Mengubah Peta Kerja Dunia
Berdasarkan laporan World Economic Forum tahun 2024, sebanyak 85 juta pekerjaan diperkirakan akan hilang akibat otomatisasi dan AI pada tahun 2025, terutama pekerjaan rutin dan administratif. Namun, di sisi lain, AI juga diperkirakan akan menciptakan 97 juta pekerjaan baru yang berbasis teknologi, data, dan kreativitas. Ini menciptakan paradoks: siapa yang siap, akan melesat; siapa yang tidak siap, akan tergantikan.
Di Amerika Serikat, perusahaan teknologi seperti Google dan Microsoft telah mengimplementasikan sistem AI untuk membantu diagnosis medis, layanan pelanggan otomatis, hingga pengembangan kode software secara instan. Namun, banyak pekerja di sektor logistik dan administrasi mulai kehilangan pekerjaan akibat efisiensi mesin AI.
Di Cina, pemerintah mengintegrasikan AI ke dalam sistem smart city dan pendidikan. Dengan investasi lebih dari US$ 150 miliar, Cina menjadi negara dengan roadmap AI terdepan. Namun, hal ini juga memicu tingginya kebutuhan kompetensi ulang (reskilling) pada jutaan tenaga kerja yang terdampak.
Sementara di India, perkembangan AI justru membuka peluang besar di sektor layanan teknologi, terutama untuk perusahaan outsourcing. India mencatat kenaikan 20% permintaan pelatihan AI dan machine learning selama 2023.
Indonesia: Masih Tahap Transisi
Di Indonesia, adopsi AI masih berjalan dalam tahap awal dan belum merata. Laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 2024 menyebutkan bahwa baru 11% perusahaan di Indonesia yang menggunakan AI dalam proses bisnis mereka.
Namun, ancaman terhadap pekerjaan juga mulai terasa. Sektor perbankan, customer service, dan manufaktur mulai melakukan automasi layanan. Misalnya, penggunaan chatbot AI telah menggantikan peran call center konvensional di berbagai bank besar.
Ironisnya, dari data BPS, hanya 17,2% tenaga kerja Indonesia yang memiliki kemampuan digital dasar, dan hanya 5,1% yang memiliki keahlian menengah hingga tinggi di bidang teknologi. Ini menciptakan kesenjangan serius antara perkembangan teknologi dan kesiapan sumber daya manusia.
[Tantangan Kompetensi Manusia]
Tantangan terbesar dalam menghadapi AI bukan pada teknologinya, tetapi pada kesiapan manusia. Diperlukan program pendidikan dan pelatihan ulang berskala besar, baik dari pemerintah, swasta, maupun institusi pendidikan.
Menurut UNESCO, negara-negara yang sukses mengelola dampak AI adalah mereka yang mampu mengintegrasikan literasi digital dan keterampilan abad 21 ke dalam kurikulum sejak dini. Negara seperti Finlandia dan Korea Selatan sudah menjadikan AI sebagai bagian dari pelajaran di sekolah menengah.
Sementara Indonesia baru mulai mengembangkan kurikulum AI di beberapa perguruan tinggi. Inisiatif seperti “1000 Talenta Digital” oleh Kominfo dan pelatihan dari BUMN menjadi langkah awal, namun masih jauh dari cukup untuk menjangkau 140 juta angkatan kerja.
Kecanggihan AI bukan untuk ditakuti, tapi untuk dikelola dan dimanfaatkan. Dunia telah bergeser dari era industri ke era kecerdasan buatan, dan manusia dituntut untuk berkembang bersama teknologi, bukan tertinggal olehnya.
Bagi Indonesia, ini adalah momen penting untuk merevolusi pendidikan, mempercepat pelatihan keterampilan digital, dan menciptakan kebijakan adaptif terhadap teknologi baru. Jika tidak, maka bonus demografi yang kita banggakan bisa berubah menjadi beban ekonomi di tengah arus otomatisasi global.
Karena pada akhirnya, bukan AI yang akan menggantikan manusia—tetapi manusia yang tidak mampu beradaptasi akan digantikan oleh mereka yang mampu bekerja berdampingan dengan AI.
















Aditya Baso
Great