Oleh : Tengku Iskandar, M. Pd
Mukadimah
Manusia adalah makhluk lemah. Sebesar apapun kehebatan seseorang, secanggih apapun teknologi yang dimiliki, dan sekokoh apapun fisik yang dibanggakanāpada akhirnya semua akan tunduk pada kenyataan bahwa manusia tak berdaya tanpa pertolongan Allah. Oleh karena itu, dalam ajaran Islam, meminta pertolongan kepada Allah bukan hanya dalam hal besar seperti musibah, kematian, dan kemiskinan, tapi juga dianjurkan dalam urusan yang paling kecil, bahkan remeh menurut logika manusia.
Nasihat Syaikh Muhammad bin Shalih al-āUtsaimin rahimahullah menjadi pengingat mendalam bagi kita:
> āMeskipun dalam perkara yang ringan sekalipun, jangan lupa untuk senantiasa meminta pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla. Meskipun engkau ingin wudhu, salat, pergi ke arah kanan, kiri atau meletakkan sesuatu. Maka hendaknya berusaha menghadirkan perasaan bahwa kamu meminta tolong kepada Allah. Dan seandainya bukan karena pertolongan Allah, niscaya semua itu tidak akan berhasil.ā
(Syarh Riyadhus Shalihin 2/80)
1. Isti’anah: Esensi Tauhid
Dalam Islam, konsep istiāanah (meminta pertolongan) adalah bagian dari tauhid. Allah berfirman:
“Iyyaaka naābudu wa iyyaaka nastaāiÄ«n.”
āHanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.ā
(QS. Al-Fatihah: 5)
Ini adalah pengakuan bahwa hanya Allah satu-satunya tempat bergantung. Meminta tolong kepada selain Allah dalam perkara yang hanya Allah mampu menyelesaikannya adalah bentuk penyimpangan akidah.
2. Rasulullah ļ·ŗ Pun Meminta Tolong untuk Hal Kecil
Rasulullah ļ·ŗ mengajarkan umatnya untuk berdoa bahkan sebelum memakai sandal, keluar rumah, masuk kamar mandi, dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa menghadirkan rasa butuh kepada Allah dalam setiap langkah hidup merupakan bagian dari sunnah dan bentuk penghambaan yang sempurna.
Salah satu doa Rasulullah ļ·ŗ sebelum keluar rumah:
> āBismillah, tawakkaltu āala Allah, laa hawla wa laa quwwata illa billah.ā
Artinya: āDengan nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.ā
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
3. Kesadaran Hati: Siapa Kita Tanpa Allah?
Ketika seseorang membiasakan diri meminta pertolongan kepada Allah dalam urusan kecil seperti menulis, memasak, mengingat sesuatu, atau memindahkan barangāitu menunjukkan hatinya hidup dan terhubung dengan Tuhannya.
Sebaliknya, orang yang merasa tidak perlu memohon dalam urusan kecil sesungguhnya sedang menyimpan benih kesombongan. Padahal Allah berfirman:
> āManusia diciptakan dalam keadaan lemah.ā
(QS. An-Nisa: 28)
Lemahnya manusia bukan hanya dalam fisik, tapi juga dalam akal, kemampuan melihat masa depan, menilai yang terbaik, dan lain-lain. Maka meminta pertolongan kepada Allah dalam segala urusan adalah pengakuan yang membebaskan dan menenangkan.
4. Apa Manfaat Meminta Tolong dalam Urusan Kecil?
a. Melatih Hati untuk Bergantung kepada Allah
Ketika hal kecil saja kita minta kepada Allah, maka dalam hal besar pun kita akan ringan berserah diri.
b. Menjauhkan Diri daripada Kesombongan
Orang yang selalu meminta tolong tidak merasa ābisa sendiri.ā Ia sadar bahwa semua kesuksesan dan kemudahan datang dari Allah.
c. Menjadikan Doa Sebagai Ibadah Rutin
Doa bukan sekadar permintaan, tapi adalah bentuk ibadah yang dicintai Allah. Rasulullah ļ·ŗ bersabda:
> “Doa adalah ibadah.”
(HR. Tirmidzi)
5. Contoh Permintaan dalam Urusan Kecil
Berikut adalah beberapa contoh kecil yang bisa kita biasakan:
āYa Allah, bantu aku mengikat tali sepatu ini dengan mudah.ā
āYa Allah, mudahkan aku menulis dengan baik.ā
āYa Allah, tunjukkan di mana aku meletakkan kunci tadi.ā
āYa Allah, lancarkan lisanku saat berbicara.ā
āYa Allah, lindungi aku dalam perjalanan singkat ini.ā
Jangan pernah merasa malu untuk meminta kepada Allah, karena Allah senang dengan hamba yang meminta. Bahkan, dalam salah satu atsar dari āAisyah radhiyallahu āanha disebutkan:
> āMintalah kepada Allah walaupun hanya tali sandalmu, karena jika Allah tidak memudahkannya, maka kamu tidak akan bisa mendapatkannya.ā
6. Isti’anah dalam Salat: Doa Terbesar Harian Kita
Istiāanah bahkan hadir dalam setiap rakaat salat kita melalui surah Al-Fatihah. Artinya, Islam telah mengajarkan kita untuk terus-menerus bergantung kepada Allah bahkan tanpa kita sadari.
Ibnul Qayyim mengatakan:
> āDi antara bentuk ibadah tertinggi adalah engkau merasa tidak mampu melakukan apa-apa kecuali dengan pertolongan Allah.ā
7. Perbaiki Niat Saat Meminta Tolong
Ketika kita memohon pertolongan kepada Allah, hadirkan niat bahwa kita adalah hamba-Nya yang lemah. Jangan minta hanya karena butuh, tapi karena sadar bahwa kita tak bisa apa-apa tanpanya.
Misalnya:
Jangan hanya berdoa ketika kehilangan dompet, tapi biasakan berdoa setiap kali menyimpan sesuatu.
Jangan hanya ingat Allah saat ujian besar, tapi juga saat membaca satu lembar catatan.
8. Istiāanah Adalah Cermin Kehidupan Berbasis Tauhid
Kehidupan yang dibangun atas dasar istiāanah akan penuh berkah. Karena kita tidak hanya bergerak dengan tubuh, tapi juga dengan ruh yang selalu terhubung dengan Allah.
Allah berjanji:
> “Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
9. Penutup: Jadikan Istiāanah Sebagai Gaya Hidup
Istiāanah bukan hanya teori dalam akidah, tapi harus menjadi gaya hidup ruhani seorang Muslim. Ketika kita melatih hati untuk selalu bergantung kepada Allah dalam urusan kecil, maka:
Kita akan lebih sabar dalam menghadapi ujian besar.
Kita tidak mudah panik karena sudah terbiasa berserah diri.
Kita akan merasa dekat dengan Allah dalam setiap detik hidup.
Ingatlah:
Jika Allah tidak menolong kita untuk menyalakan lampu, maka tangan kita tak akan bisa menekannya. Jika Allah tidak mengizinkan lidah kita berbicara, maka tak satu kata pun bisa terucap.
—
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang senantiasa bergantung kepada-Nya dalam segala urusan, besar maupun kecil.
Dan semoga kita diberi hati yang hidup, lidah yang basah dengan doa, dan langkah yang selalu berharap pertolongan-Nya. Aamiin.
Referensi:
Al-Qur’an Al-Karim (QS. Al-Fatihah, An-Nisa, Al-Baqarah)
Riyadhus Shalihin Syarh Syaikh al-Utsaimin (2/80)
Hadits-hadits dari Shahih Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi
Atsar āAisyah radhiyallahu āanha















Aditya Baso
Great š