Advertisement

Nilai-Nilai Islam Sebagai Strategi Pencegahan IMS Remaja

AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU — Bloomberg Technoz pada 20 Juni 2025 melaporkan peningkatan drastis kasus infeksi menular seksual (IMS) pada remaja Indonesia di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bali. Kondisi tersebut mendesak penerapan pendekatan pencegahan holistik yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam sebagai kerangka kerja komprehensif dalam membentuk gaya hidup sehat remaja modern.

https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/74754/kasus-infeksi-menular-seksual-pada-remaja-naik-ini-wilayahnya

Kementerian Kesehatan mencatat tren meningkatnya kasus IMS pada remaja usia 15-19 tahun selama tiga tahun terakhir. Data ini mengindikasikan kegagalan pendekatan pencegahan konvensional yang terpisah dari nilai-nilai budaya dan agama masyarakat Indonesia. Oraby (2024) menegaskan hambatan (barriers) terhadap pendidikan seksualitas bukan bersumber dari doktrin Islam, melainkan dari kultur yang salah menginterpretasikan ajaran agama. Jefferson et al. (2021) menemukan fakta bahwa remaja usia 15-24 tahun menyumbang separuh dari 20 juta kasus IMS baru setiap tahunnya, sehingga intervensi preventif yang efektif dan sesuai budaya menjadi kebutuhan mendesak.

Islam menyediakan fondasi kokoh untuk pencegahan IMS melalui konsep hifz al-nasl (perlindungan keturunan dan keberlanjutan generasi) yang termasuk dalam lima tujuan utama syariah (maqashid syariah). Al-Zaabi et al. (2019) mengungkapkan temuan signifikan bahwa 72,8% orang tua Muslim di Oman mendukung program pendidikan seksualitas berbasis sekolah yang mematuhi persyaratan Islam tentang pantangan hubungan seksual pranikah. Pendekatan ini tidak menutup pembahasan seksualitas, namun mengarahkannya pada kerangka nilai yang mengutamakan tanggung jawab, kesucian (iffah atau kemurnian moral), dan kehormatan. Implementasinya mencakup pendidikan tentang fitrah manusia, batasan syar’i, dan konsekuensi pelanggaran terhadap kesehatan fisik serta spiritual.

Gaya hidup sehat dalam Islam secara alamiah mendukung pencegahan IMS melalui berbagai dimensi kehidupan. Esposito et al. (2024) mengidentifikasi program pencegahan komprehensif yang mengintegrasikan nilai-nilai agama menunjukkan efektivitas superior dibandingkan pendekatan sekuler. Prinsip la darar wa la dirar (tidak boleh merugikan atau membahayakan diri sendiri dan orang lain) menjadi landasan etis untuk menghindari perilaku berisiko. Konsep tazkiyah (penyucian jiwa dan pembersihan diri dari sifat-sifat buruk) mendorong pembentukan karakter kuat dalam menghadapi godaan. Latifi et al. (2017) melalui tinjauan sistematis mereka menegaskan intervensi berbasis teori yang mengintegrasikan nilai-nilai agama menunjukkan dampak positif signifikan terhadap perubahan perilaku seksual remaja.

Efektivitas pendekatan Islam dalam pencegahan IMS menunjukkan keunggulan komprehensifitas yang meliputi aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Islam menekankan tanggung jawab kolektif melalui peran keluarga, masyarakat, dan institusi pendidikan, berbeda dengan pendekatan Barat yang cenderung individualistik. Akrami et al. (2022) dalam kerangka kerja bioetika Islam mengargumentasikan prinsip maslaha (kemaslahatan atau kemanfaatan umum) memungkinkan penyediaan layanan kesehatan reproduksi untuk remaja berisiko tinggi tanpa mengabaikan nilai-nilai agama. Pendekatan ini mengakui realitas bahwa sebagian remaja mungkin telah terlibat dalam perilaku berisiko, sehingga pengurangan dampak buruk (harm reduction) menjadi prioritas dengan tetap mempertahankan kerangka kerja nilai-nilai Islam.

Implementasi yang efektif memerlukan pendekatan bertingkat (multi-level) yang melibatkan beberapa strategi kunci. Pertama, integrasi kurikulum pendidikan Islam dengan materi kesehatan reproduksi. Kedua, pelatihan pendidik dan konselor yang kompeten dalam pengetahuan Islam sekaligus ilmu kesehatan. Ketiga, pemberdayaan peran orang tua melalui program pengasuhan berbasis Islam. Keempat, kolaborasi dengan tokoh agama untuk legitimasi program. Steiner et al. (2021) merekomendasikan penguatan sekolah sebagai tempat strategis untuk intervensi, dengan menekankan pentingnya pendidikan kesehatan seksual, layanan kesehatan seksual, dan lingkungan yang aman dan mendukung. Konteks Islam memungkinkan pengembangan pendidikan seksualitas komprehensif berbasis Islam yang mengintegrasikan ajaran agama dengan pengetahuan medis kontemporer.

Nilai-nilai Islam dalam pencegahan IMS pada remaja bukan hanya dapat dilaksanakan, tetapi juga diperlukan dalam konteks Indonesia. Pendekatan ini menawarkan solusi holistik yang mengatasi akar masalah melalui pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai moral, dan penyediaan panduan praktis untuk gaya hidup sehat. Sukses implementasi memerlukan komitmen dari berbagai pemangku kepentingan untuk mengembangkan model pencegahan yang secara otentik Islami namun dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Islam dapat menjadi kekuatan transformatif dalam mengatasi epidemi IMS pada remaja, menciptakan generasi yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual.

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana S3 prodi Hukum Keluarga Islam UIN Suska Riau

Daftar Pustaka

Akrami, F., Zali, A., & Abbasi, M. (2022). An Islamic bioethics framework to justify the at-risk adolescents’ regulations on access to key reproductive health services. Asian Bioethics Review, 14(3), 225-235. https://doi.org/10.1007/s41649-021-00200-3

Al-Zaabi, O., Heffernan, M., Holroyd, E., & Jackson, M. (2019). Islamic parents’ attitudes and beliefs towards school-based sexual and reproductive health education programmes in Oman. Sex Education, 19(5), 534-550.

Esposito, G., Mirabella, M., Bartolini, A., Pelagalli, M., Oliveti, D., Camporese, A., & Scardella, P. (2024). Sexually transmitted infections in adolescents and young adults: A cross section of public health. International Journal of Environmental Research and Public Health, 21(4), 501. https://doi.org/10.3390/ijerph21040501

Jefferson, I. S., Dass, S., Trojanowski, M., Mehta, S., Kondamudi, N., & Holland, K. (2021). Assessing and improving the knowledge of sexually transmitted infections among high school adolescents. Dermatology Research and Practice, 2021, 6696316. https://doi.org/10.1155/2021/6696316

Latifi, A., Merghati-Khoei, E., Shojaeizadeh, D., Nedjat, S., Mehri, A., & Garmaroudi, G. (2017). Theory-based interventions in STIs/HIV prevention: A systematic review of the literature in Iran. Medical Journal of the Islamic Republic of Iran, 31, 131.

Oraby, D. (2024). Sexuality education for youth and adolescents in the Middle East and North Africa region: A window of opportunity. Global Health: Science and Practice, 12(1), e2300282. https://doi.org/10.9745/GHSP-D-23-00282

Steiner, R. J., Liddon, N., Swartzendruber, A. L., Rasberry, C. N., & Sales, J. M. (2021). Addressing HIV/sexually transmitted diseases and pregnancy prevention through schools: An approach for strengthening education, health services, and school environments that promote adolescent sexual health and well-being. Journal of Adolescent Health, 69(2), 226-232. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2021.05.017

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *