AKTAMEDIA.COM, SYDNEY – Dengan pesawat penumpang terbesar di muka bumi saat ini, Airbus A380-800 milik maskapai Singapore Airlines yang mampu mengangkut lebih dari 800 penumpang, kami meninggalkan Sydney menuju Singapura, menempuh perjalanan sejauh 6.389 kilometer. Penerbangan ini membelah benua Australia—dimulai dari ujung Sydney, melewati Broken Hill, terus melaju di atas Coober Pedy, menyentuh tepi Alice Springs, melangkahi Broome, mencium bibir Denpasar, terbang di atas Madura, menyapa Selat Sunda, melirik Bangka Belitung, masuk dalam dekapan Kepulauan Riau, hingga akhirnya burung besi raksasa ini mendarat di sarangnya: Bandara Changi, Singapura.

Di angkasa, kenangan indah tiga hari berada di Sydney kembali terlintas. Selama itu, kami tinggal di surau yang dikelola oleh Ikatan Keluarga Minangkabau Saiyo (IKMS) Sydney, Australia. Kami diperlakukan seperti keluarga sendiri—hangat, akrab, dan penuh rasa hormat. Kenangan ini begitu berkesan, sulit diungkapkan dengan kata-kata. Andai pandai menciptakan lagu, tentu setiap huruf akan saya rangkai menjadi bait tembang berjudul Tiga Hari di Sydney. Tapi saya bukan penyair seperti Taufiq Ismail yang telah banyak menulis lagu untuk Bimbo bersaudara.
Intinya, tak mungkin membalas kebaikan yang begitu tulus itu dengan yang setimpal. Benarlah kata orang tua kita dahulu:
Pisang emas bawa berlayar,
Masak sebiji di dalam peti.
Hutang emas bisa dibayar,
Hutang budi dibawa mati.
Dulu, sastrawan A.A. Navis pernah menulis cerpen berjudul Rubuhnya Surau Kami, sebuah elegi tentang seorang ustaz dan suraunya di kota hujan Padang Panjang. Kini, memang fungsi surau di Minangkabau tak lagi seperti dulu—bahkan seakan telah “rubuh” secara hakiki dan filosofis. Surau gagal merajut benang emas masa lalunya untuk ditenun menjadi songket sejarah masa depan.
Padahal, pada masa jayanya, surau adalah sekolah kehidupan. Tempat para remaja Minangkabau dibentuk oleh budaya. Setelah baligh, mereka tak lagi tidur di rumah, melainkan belajar mandiri: pagi ke sekolah, sore ke madrasah, malam mengaji di surau. Para pendekar pun kerap mengajarkan silat di sana. Sementara orang tua yang telah penat merantau menjadikan surau sebagai tempat merenda hari-hari akhir hayat—mengajar tanpa gelar, menyampaikan pelajaran hidup tanpa SKS. Mereka bercerita tentang pahit-manisnya rantau, naik-turunnya kehidupan. Surau adalah kawah candradimuka pembentuk karakter remaja.

Namun saya terkejut—lebih dari 6.000 kilometer dari ranah aslinya, surau itu bangkit kembali. Ia mencoba menyusun puzzle sejarah dan peran surau yang selama ini berserakan. Tantangan hidup di rantau sekuler tidak mudah. Di sini, budaya Barat dan budaya Minangkabau bersaing di gelanggang peradaban. Kalau kalah, orang Minangkabau bisa jadi lebih Barat dari orang Barat sendiri—menjadi pribadi yang kehilangan masa lalu dan tak punya tempat di masa depan.
Surau Sydney Australia (SSA) kini memegang peran penting bagi masyarakat Minangkabau di Negeri Kanguru. Tempat ini menjadi pusat ibadah, tempat mengaji, bersilaturahmi, dan mengkaji kembali budaya lama—adat nan usang, agar tetap hidup, menjadi pedoman dan sempadan. Saya merasa terhormat bisa berceramah dan berdiskusi dengan jamaah di sana. Terasa ada nuansa rindu untuk menghadirkan kembali budaya Minangkabau yang bermotto:
Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Syarak mangato, adat mamakai.
Di era ultra-modern seperti sekarang, tentu menghadirkan surau seperti zaman saisuak (dulu) adalah hal yang mustahil. Namun, mengambil jiwa surau, lalu menitipkannya ke hati generasi muda Minangkabau di luar negeri, adalah sesuatu yang sangat mungkin.
Semoga SSA menjadi pemantik api untuk menghidupkan cahaya surau bagi semesta.
Dengan Bismillah—impossible is nothing.
Judul Asli :
Tegaknya Surau Kami
(Tiga Hari di Surau Sydney, Australia)
Oleh :
Dr. Saidul Amin, MA
(Rektor UMM Riau dan Rektor UM Malaysia)
















Leave a Reply