Advertisement

Fenomena “Ngadu” ke Dedi Mulyadi

AKTAMEDIA.COM, BANDUNG – Tren di jagat media sosial Indonesia diramaikan oleh tren unik dan menarik: “ngadu” kepada Dedi Mulyadi. Baik dalam bentuk video asli maupun parodi, fenomena ini menyita perhatian netizen. Sosok Dedi Mulyadi, mantan Bupati Purwakarta yang kini dikenal sebagai anggota DPR RI, menjadi simbol bagi tempat curhat masyarakat, terutama rakyat kecil. Gaya khasnya yang penuh empati, sederhana, dan dekat dengan rakyat membuat interaksinya dengan warga terasa tulus, kadang mengharukan, dan seringkali juga lucu.

Fenomena “ngadu” ini bermula dari konten-konten video yang memperlihatkan Dedi Mulyadi turun langsung ke lapangan, menemui warga di desa-desa, pasar tradisional, atau gang-gang sempit. Ia tidak segan duduk lesehan, mendengarkan keluhan warga, mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga persoalan rumah tangga. Video-videonya banyak menyentuh hati karena memperlihatkan kepedulian yang jarang ditunjukkan politisi pada umumnya.

Yang membuat konten ini semakin populer adalah gaya komunikasi Dedi Mulyadi yang santai, kadang jenaka, dan menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Indonesia dengan logat khas yang membuat suasana menjadi akrab. Banyak netizen merasa bahwa beliau adalah representasi “Bapak” yang mau mendengar dan memberi solusi tanpa menghakimi.

Seiring meluasnya popularitas konten tersebut, muncul tren baru berupa parodi “ngadu ka Dedi” di TikTok, Instagram, dan YouTube Shorts. Dalam video-video ini, netizen berperan seolah-olah mereka sedang mengadu kepada Dedi Mulyadi. Namun, isi aduannya sering kali dilebih-lebihkan, absurd, atau berisi keresahan khas generasi muda—mulai dari kehabisan kuota, ditinggal gebetan, hingga keluh kesah sebagai anak kos.

Parodi-parodi ini bukan untuk mengejek, melainkan sebagai bentuk apresiasi dalam bentuk komedi. Sosok Dedi Mulyadi tetap digambarkan sebagai pendengar setia dan pemberi nasihat yang bijak, meskipun konteksnya dipelintir menjadi lucu.

Humor semacam ini berhasil menciptakan ruang baru bagi ekspresi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menyampaikan keresahan hidup dengan cara yang ringan dan menghibur.

Walau terkesan lucu dan ringan, tren ini juga menunjukkan ada kerinduan mendalam masyarakat terhadap pemimpin yang dekat, mendengar, dan benar-benar peduli. “Ngadu” kepada Dedi Mulyadi menjadi simbol keinginan warga untuk memiliki figur pemimpin yang tidak hanya duduk di balik meja, tetapi turun langsung ke lapangan, memahami masalah dari sumbernya, dan memberikan solusi yang realistis.

Dalam konteks yang lebih luas, tren ini bisa dilihat sebagai bentuk kritik sosial. Ketika banyak pemimpin politik hanya hadir di masa kampanye, kemunculan figur seperti Dedi Mulyadi justru menunjukkan kontras yang nyata. Ia hadir bukan hanya sebagai politisi, tapi juga sebagai pendengar dan pelindung rakyat kecil.

Tren “ngadu” kepada Dedi Mulyadi menunjukkan bagaimana kepekaan sosial, empati, dan pendekatan humanis bisa menjelma menjadi kekuatan komunikasi yang sangat efektif.

Bahkan, dalam era digital yang serba cepat ini, hal-hal sederhana seperti mendengarkan keluhan warga bisa menjadi inspirasi besar dan menciptakan gerakan budaya populer. Antara curhat dan hiburan, tren ini adalah cermin dari keinginan masyarakat akan kehadiran pemimpin yang benar-benar hadir dan peduli.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *